Connect with us

OASE

Makna Surah Al-Muddaththir: Awal Perintah Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

Aktualitas.id -

Surah Al-Muddaththir, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Surah Al-Muddaththir merupakan salah satu surah penting dalam Al-Qur’an yang menandai dimulainya secara nyata misi dakwah Nabi Muhammad SAW. Surah ke-74 ini terdiri dari 56 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah, karena diturunkan di Makkah pada fase awal kenabian.

Nama Al-Muddaththir diambil dari ayat pertama yang berarti “orang yang berselimut”. Penamaan ini merujuk pada kondisi Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu lanjutan setelah masa terhentinya wahyu (fatrat al-wahy), sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.

Awal Turunnya Wahyu dan Perintah Berdakwah

Menurut para ulama tafsir, tujuh ayat pertama Surah Al-Muddaththir termasuk wahyu paling awal yang diterima Rasulullah SAW setelah Surah Al-‘Alaq. Pada ayat-ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk bangkit, memberi peringatan kepada umat manusia, mengagungkan nama Allah, menjaga kesucian diri, serta bersabar dalam menghadapi tantangan dakwah.

Perintah ini menandai perubahan fase dari persiapan spiritual menuju dakwah terbuka, sekaligus menjadi awal konfrontasi ideologis antara Islam dan kaum Quraisy di Makkah.

Penolakan Quraisy dan Propaganda Anti-Islam

Ayat 8 hingga 26 Surah Al-Muddaththir mengulas sikap para penentang dakwah Nabi, yang dalam tafsir disebut merujuk pada tokoh Quraisy, Walid bin al-Mughirah. Meski mengakui keindahan dan kebenaran Al-Qur’an, ia menolak beriman demi mempertahankan status dan pengaruhnya.

Dalam peristiwa menjelang musim haji, kaum Quraisy bahkan sepakat melabeli Al-Qur’an sebagai “sihir” untuk menghalangi para jamaah menerima dakwah Nabi Muhammad SAW. Namun, propaganda tersebut justru membuat ajaran Islam semakin dikenal luas di Jazirah Arab.

Gambaran Neraka dan Hakikat Keimanan

Pada ayat 27 hingga 48, Surah Al-Muddaththir menggambarkan kedahsyatan neraka serta karakter manusia yang layak menerimanya, yakni mereka yang mengingkari hari akhir, mengabaikan shalat, dan enggan menolong sesama.

Sementara itu, ayat-ayat penutup menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah peringatan terbuka bagi seluruh manusia. Allah SWT tidak membutuhkan keimanan manusia, namun manusialah yang membutuhkan petunjuk dan ampunan-Nya.

Pesan Utama Surah Al-Muddaththir

Surah ini menegaskan bahwa dakwah menuntut keikhlasan, kesucian akhlak, dan kesabaran. Allah SWT memiliki kuasa penuh untuk mengampuni siapa pun yang bertakwa dan kembali kepada-Nya, meskipun pernah melakukan banyak kesalahan.

Dengan kandungan historis dan spiritual yang kuat, Surah Al-Muddaththir menjadi pengingat penting tentang awal perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam dan nilai tauhid di tengah tekanan dan penolakan. (Mun)

Continue Reading

TRENDING