Connect with us

OASE

Sejarah Turunnya Surah Al-Lail di Kota Makkah

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Surah Al-Lail merupakan surah ke-92 dalam Al-Qur’an. Surah ini tergolong sebagai surah Makkiyah karena diturunkan di Kota Makkah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surah ini memiliki 21 ayat dan dikenal dengan pesan kuat tentang dua jalan kehidupan: jalan kedermawanan dan ketakwaan, serta jalan kekikiran dan pendustaan.

Makna dan Tema Besar Surah Al-Lail

Secara bahasa, “Al-Lail” berarti malam. Nama ini diambil dari ayat pertama yang diawali dengan sumpah Allah atas malam yang menutupi segala sesuatu. Dalam tafsir yang dinisbatkan kepada ulama seperti Ibn Ashur dan Abul A’la Maududi, surah ini menegaskan bahwa usaha manusia terbagi dalam dua tipe yang berlawanan dan berujung pada dua nasib berbeda.

Allah menegaskan bahwa:

Orang yang memberi dan bertakwa akan dimudahkan menuju jalan kebahagiaan.

Orang yang kikir dan merasa cukup tanpa Allah akan dimudahkan menuju kesengsaraan.

Pesan utama surah ini adalah bahwa petunjuk dan balasan akhir sepenuhnya berada di tangan Allah.

Asbabun Nuzul Surah Al-Lail

Dalam sejumlah riwayat, sebab turunnya Surah Al-Lail berkaitan dengan dua peristiwa penting.

1. Kisah Pemilik Pohon Kurma yang Bakhil

Riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Hatim dan Al-Hakim menyebutkan adanya seorang pemilik pohon kurma yang enggan berbagi dengan tetangganya yang fakir. Pohon kurmanya menjulur ke rumah tetangga, namun setiap buah yang jatuh dan dipungut anak-anak miskin itu dirampas kembali olehnya.

Nabi Muhammad SAW menawarkan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon tersebut, namun ia menolak. Kemudian datang seorang sahabat dermawan yang membeli pohon itu dengan 40 pohon kurma, lalu menyerahkannya kepada Nabi untuk diberikan kepada keluarga miskin tersebut. Dari peristiwa inilah turun ayat-ayat yang menegaskan perbedaan antara orang yang memberi dan orang yang kikir.

2. Kedermawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sebagian mufasir seperti Ibn Kathir dan Al-Tabari meriwayatkan bahwa ayat 5 hingga akhir surah turun berkaitan dengan kedermawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar dikenal memerdekakan budak-budak lemah yang disiksa karena keimanannya, termasuk Bilal ibn Rabah. Tindakan itu dilakukan bukan untuk balasan dunia, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah.

Ayat berikut menegaskan:

“Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.”

Menurut riwayat, bahkan ayah Abu Bakar sempat mempertanyakan tindakannya membeli budak yang lemah. Namun Abu Bakar menjawab bahwa ia hanya mengharapkan pahala dari Allah.

Tafsir Ayat 5–21: Dua Jalan Kehidupan

Ayat 5–7 menjelaskan kemudahan bagi orang yang:

Memberikan hartanya di jalan Allah

Bertakwa

Membenarkan adanya pahala terbaik (surga)

Sebaliknya, ayat 8–11 menjadi peringatan keras bagi orang yang:

Kikir

Merasa cukup tanpa Allah

Mendustakan hari akhir

Harta tidak akan berguna saat seseorang telah binasa. Ini menjadi pesan spiritual kuat bahwa kekayaan bukan jaminan keselamatan.

Keutamaan Surah Al-Lail

Surah Al-Lail termasuk dalam kelompok Al-Mufashshal, yakni surah-surah pendek dalam Al-Qur’an yang sering dibaca dalam shalat.

Beberapa keutamaan yang disebutkan dalam literatur keislaman antara lain:

Mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam beramal

Menjadi motivasi untuk bersedekah dan bertakwa

Mengajarkan bahwa balasan sejati hanya dari Allah

Memberi ketenangan hati bagi yang mengamalkannya

Pelajaran Penting dari Surah Al-Lail

Surah Al-Lail memberikan pelajaran mendalam tentang:

Ketulusan dalam bersedekah

Bahaya sifat kikir

Keyakinan pada balasan akhirat

Keutamaan mencari ridha Allah di atas segalanya

    Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi gambaran nyata bagaimana iman melahirkan pengorbanan tanpa pamrih.

    Surah Al-Lail bukan sekadar surah pendek yang mudah dibaca, tetapi mengandung pesan moral dan spiritual yang sangat dalam. Melalui kisah kedermawanan dan peringatan bagi yang kikir, Allah menegaskan bahwa setiap manusia sedang menempuh jalannya masing-masing.

    Pilihan ada pada diri kita: jalan kemudahan menuju surga, atau jalan kesulitan menuju kesengsaraan. (Mun)

    Continue Reading

    TRENDING