EKBIS
Rupiah di Ambang Rp17.000 per USD, BI Rate Jadi Penentu
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1/2026) masih bergerak terbatas dan cenderung melemah. Rupiah bertahan di kisaran Rp16.985 per dolar AS, meski dolar global juga sedang berada dalam tekanan akibat dinamika sentimen global.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp16.985 per USD, melemah 30 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.887 per USD.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di posisi Rp16.930 per USD, melemah dari level Rp16.876 per USD pada pembukaan perdagangan hari sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dimulai hari ini dan dijadwalkan mengumumkan hasil kebijakan moneternya pada Rabu (21/1/2026).
Bank Indonesia diproyeksikan akan mengambil sikap hati-hati dengan menahan BI Rate di level 4,75 persen. Meskipun inflasi domestik relatif terkendali di kisaran 2,92 persen, ruang untuk pelonggaran suku bunga dinilai masih terbatas, mengingat tekanan eksternal yang cukup kuat serta kebutuhan menjaga daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah di mata investor asing.
Selain itu, selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai perlu tetap dijaga agar tidak memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Hal ini menjadi krusial di tengah posisi rupiah yang masih berada di area rentan mendekati Rp17.000 per dolar AS. Keputusan menahan suku bunga diharapkan dapat memberikan kepastian arah kebijakan sekaligus menahan volatilitas rupiah.
Dari sisi global, pelemahan indeks dolar AS sebenarnya memberikan peluang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan terhadap dolar muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu aksi jual terhadap aset-aset Amerika Serikat.
Situasi tersebut kembali menghidupkan fenomena “Sell America”, di mana investor melepas saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan, memburuknya hubungan aliansi, serta potensi percepatan tren de-dolarisasi global.
Meski demikian, pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see, terutama menjelang dibukanya kembali pasar keuangan AS pasca libur Martin Luther King Jr. Day, serta menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Saat ini, kontrak berjangka Fed Funds masih mencerminkan probabilitas sekitar 94,5 persen bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan FOMC pekan depan, berdasarkan CME Group FedWatch Tool. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL20/09/2026 11:00 WIBHabiburokhman: Jangan Sampai RUU Jadi Alat Kekuasaan
-
POLITIK20/09/2026 10:00 WIBMenteri ATR/BPN Ternyata Sudah Lama Cabut dari Pengurus Golkar
-
POLITIK20/09/2026 07:00 WIBPrabowo Buka Pintu Reshuffle, PDIP: Kami Tetap di Luar
-
NUSANTARA20/09/2026 14:00 WIBApi Liar Lahap 10 Hektare di Ampana Kota
-
DUNIA20/09/2026 08:00 WIBPBB: Serangan Brutal AS ke Iran Murni Kejahatan Perang
-
OASE20/09/2026 05:00 WIB8 Ayat Al-Qur’an Ini Bongkar Kunci Hidup Sehat Bebas Penyakit
-
POLITIK20/09/2026 06:00 WIBPKB Buka Pintu PT 5 Persen untuk Pemilu 2029
-
DUNIA20/09/2026 12:00 WIBIran Gantung Mata-mata Mossad

















