Connect with us

EKBIS

Rupiah Menguat ke Rp16.784 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan penguatan signifikan. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah tercatat menguat 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp16.784 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.820 per dolar AS.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah bahkan sempat menguat lebih dalam pada awal sesi pagi dengan kenaikan 0,24 persen ke posisi Rp16.770 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah terbentuk pada akhir pekan lalu, ketika pada Jumat (23/1/2026) rupiah ditutup di level Rp16.810 per dolar AS, menguat 0,41 persen.

Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (Dollar Index/DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat turun 0,51 persen ke level 97,109. Pelemahan ini memperpanjang koreksi DXY pada akhir pekan lalu yang turun 0,77 persen dan ditutup di level 97,599.

Melemahnya indeks dolar membuka ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Koreksi DXY mencerminkan tekanan jual terhadap aset berdenominasi dolar AS, sehingga sebagian arus dana global berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang emerging market.

Tekanan terhadap dolar AS juga tercatat cukup dalam secara mingguan. Greenback berada di jalur penurunan mingguan paling tajam sejak Juni 2025, seiring meningkatnya kehati-hatian investor akibat ketegangan geopolitik dan kembali menguatnya narasi “Sell America” yang sempat mencuat setelah gelombang tarif bertajuk Liberation Day tahun lalu.

Sentimen pasar global turut dipengaruhi oleh ketidakpastian arah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada pekan lalu, Trump sempat melontarkan ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland. Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik setelah Trump menyebut adanya kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.

Perubahan sikap yang cepat tersebut dinilai pelaku pasar sebagai sinyal tingginya risiko kebijakan Amerika Serikat, sehingga tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut.

Menariknya, pelemahan dolar terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah AS relatif stabil. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap greenback saat ini lebih dipicu oleh faktor politik dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata-mata oleh ekspektasi arah suku bunga.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rapat kebijakan The Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan satu kali pemangkasan tambahan pada paruh kedua 2026.

Perkembangan tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek. (Firmansyah/Mun)

TRENDING