Berita
Kisah Tawanan Perang Badar Ajari Anak Muslim Menulis
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Pasukan Muslim menang dalam pertempuran ini meski jumlahnya lebih sedikit. Kemudian Rasulullah Nabi Muhammad SAW memberi syarat untuk penebusan tawanan perang Badar, yaitu masing-masing tawanan yang bisa membaca dan menulis harus mengajarkan tulis-menulis kepada 10 anak kaum Muslimin. “Langkah cerdas Rasulullah SAW itu kemudian […]
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Pasukan Muslim menang dalam pertempuran ini meski jumlahnya lebih sedikit.
Kemudian Rasulullah Nabi Muhammad SAW memberi syarat untuk penebusan tawanan perang Badar, yaitu masing-masing tawanan yang bisa membaca dan menulis harus mengajarkan tulis-menulis kepada 10 anak kaum Muslimin.
“Langkah cerdas Rasulullah SAW itu kemudian melahirkan para penulis wahyu,” kata Ustadz Sutomo Abu Nashr dalam buku Kitab Fiqih Pertama dalam Perspektif Sejarah terbitan Rumah Fiqih Publishing.
Ustadz Sutomo mengatakan, pada awalnya hanya Alquran yang boleh ditulis. Kemudian pada langkah selanjutnya hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga mulai diizinkan ditulis.
Izin itu keluar secara jelas dari lisan mulia Rasulullah SAW kepada salah satu periwayat hadits terbanyak dari kalangan sahabat, yakni Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, salah satu ‘Abadillah yang empat. “Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Abdullah, tulislah.”
Maka dari sahabat mulia ini lahirlah sebuah shahifah atau lembaran-lembaran tulisan yang berisi hadits yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW. Shahifah dikenal dengan As-Sahifah As Shadiqah. (Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ Bayan al ‘Ilmi wa Fadhlihi).
Selain Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, hanya ada satu dua sahabat lain yang juga melakukan penulisan yang sama. Jumlahnya memang sangat amat terbatas. Keterampilan menulis masih sangat jarang dimiliki oleh mereka.
Sementara Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash memang dikenal sebagai pembaca kitab-kitab terdahulu dan bisa menulis Arab maupun Suryani. Sedangkan para shahabat yang lain lebih banyak yang buta huruf.
Meskipun ada yang bisa menulis, namun mereka tidak terlalu terampil dalam ejaan yang benar. Karena itulah Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash beserta sedikit sahabat diizinkan menulis, sedangkan sejumlah besar sahabat lain tidak diperkenankan. (Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalif al Hadits, Muassasah Al Isyraq).
-
FOTO04/09/2026 13:00 WIBFOTO: ACC Kembangkan Potensi Warga Desa Cibunian
-
EKBIS04/09/2026 12:30 WIBPertamina Batalkan Syarat STNK untuk Beli BBM
-
POLITIK04/09/2026 15:00 WIBBawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu
-
NASIONAL04/09/2026 09:45 WIBErna Sari Dewi: Stop Bicara Digital Desa Kalau Tak Didanai
-
JABODETABEK04/09/2026 15:30 WIBMengaku Disekap, 2 ART Akhirnya Dipulangkan Polisi
-
DUNIA04/09/2026 17:00 WIBMohsen Rezaei: Strategi Baru Iran Akan Hantam Fondasi Kekuatan AS
-
POLITIK04/09/2026 10:00 WIBBawaslu Waspadai Deepfake di Pemilu 2029, Minta Pengawasan AI Diatur UU
-
EKBIS04/09/2026 10:30 WIBDolar AS Melemah, Rupiah Naik ke Rp17.632