POLITIK
Said Didu Sebut Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan
AKTUALITAS.ID – Analis kebijakan publik Muhammad Said Didu menilai mantan presiden Joko Widodo sosok yang sangat tidak rela kehilangan kekuasaan yang pernah digenggamnya. Pasalnya ambisi politik Jokowi untuk tetap berkuasa terlihat sejak ia masih menjabat sebagai presiden pada periode 2014-2024.
“Berbagai upaya Jokowi untuk mempertahankan pengaruh politiknya pasca kepemimpinan. Bahkan saat masih berkuasa, Jokowi mencetuskan tiga periode,” kata Said Didu yang dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, Jumat (3/7/2026).
Untuk mewujudkan ambisi politik tersebut, kata Mantan Stafsus Menteri ESDM 2014–2016 itu, Jokowi mengutus sejumlah ketua partai politik agar membantu mewujudkan rencana tiga periode.
Sejumlah tokoh politik yang diutus untuk mensponsori di antaranya Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketua DPD RI AA Lanyalla Mahmud Mattalitti.
Namun rencana itu tidak terealisasi karena dibatasi oleh Pasal 7 Undang-Undang Dasar 1945 yang menetapkan masa jabatan presiden maksimal hanya dua periode. “Selain itu tak direstui Megawati (Ketua Umum PDIP),” kata Said Didu.
Setelah gagal mewujudkan tiga periode, Jokowi disebut memutar otak agar kekuasaannya bisa tetap langgeng. Caranya dengan mendorong putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, yang saat itu belum cukup umur untuk maju di Pilpres 2024.
“Jokowi lalu paksakan anaknya lewat keputusan MK (Mahkamah Konstitusi). Apalagi Ketua MK Anwar Usman merupakan ipar Jokowi,” kata Said Didu.
Dirinya menjelaskan, Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah syarat batas usia minimum calon presiden dan calon wakil presiden menjadi sorotan publik saat itu. Putusan tersebut memungkinkan Gibran Rakabuming Raka untuk maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.
“Langkah ini dinilai sebagai bentuk rekayasa konstitusional untuk membuka jalan bagi putra Jokowi masuk ke kursi kepemimpinan nasional.” ujarnya.
Meskipun telah meninggalkan kursi kepresidenan, pengaruh Jokowi dalam peta politik nasional masih terasa. Berbagai manuver politik yang dilakukannya sebelum dan sesudah lengser terus menjadi bahan perbincangan publik dan pengamat politik.
“Upaya mempertahankan kekuasaan melalui berbagai cara tersebut menunjukkan ketidakrelaan Jokowi terhadap perubahan siklus kekuasaan yang demokratis,” pungkasnya.
-
POLITIK02/07/2026 19:30 WIBSurvei Citra Institute: Lagu MBG Lebih Dongkrak Citra Golkar daripada Bahlil
-
FOTO02/07/2026 21:52 WIBFOTO: Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara
-
NASIONAL02/07/2026 20:30 WIBKemensos Tindak Pendamping PKH yang Terbukti Rangkap Pekerjaan
-
RAGAM02/07/2026 20:00 WIBBakal Hadir Drama Komedi Romantis yang Dibintangi Lee Min Ho
-
NASIONAL02/07/2026 19:47 WIBHari Sastra Indonesia, Kemenbud Luncurkan Terjemahan Enam Karya Klasik untuk Go Internasional
-
NASIONAL02/07/2026 23:00 WIBPanglima TNI Pimpin Pengesahan Doktrin “Perisai Trisula Nusantara”, Tegaskan Adaptasi TNI Hadapi Perang Modern
-
POLITIK03/07/2026 11:00 WIBPuan Tegaskan DPR Hormati Putusan MK Soal Pilkada
-
RAGAM03/07/2026 13:30 WIBPengamat SDI: Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Pendidikan dan Kesehatan Merata