Berita
Untuk Bubarkan Demo di Yangon, Polisi Myanmar Lempar Granat
Kepolisian Myanmar menggelar razia di salah satu distrik di Yangon dengan tujuan membubarkan demonstrasi anti-junta militer pada Kamis (25/2) malam. Polisi anti-huru hara dilaporkan melepaskan beberapa tembakan ke udara dan melemparkan granat setrum di distrik Tamwe, Yangon, untuk membubarkan pengunjuk rasa yang memprotes pengangkatan seorang pejabat oleh militer. “Kami benar-benar ketakutan,” kata seorang warga yang […]
Kepolisian Myanmar menggelar razia di salah satu distrik di Yangon dengan tujuan membubarkan demonstrasi anti-junta militer pada Kamis (25/2) malam.
Polisi anti-huru hara dilaporkan melepaskan beberapa tembakan ke udara dan melemparkan granat setrum di distrik Tamwe, Yangon, untuk membubarkan pengunjuk rasa yang memprotes pengangkatan seorang pejabat oleh militer.
“Kami benar-benar ketakutan,” kata seorang warga yang menolak menyebutkan identitasnya seperti dikutip Reuters.
Saksi mata mengatakan tindakan represif polisi berlangsung hingga Jumat dini hari.
Pada Jumat pagi, sejumlah warga menemukan selongsong granat setrum dan sejumlah sepatu yang berserakan di jalanan distrik tersebut.
Sekitar siang hari, ribuan anak muda kembali berkerumun di jalanan Tamwe untuk melanjutkan aksi unjuk rasa. Namun, demonstrasi itu tak berlangsung lama, sebab kepolisian bergerak cepat membubarkan kerumunan dan menahan beberapa orang.
“Ini sangat penting untuk masa depan kita,” kata salah satu pengunjuk rasa, Nyein Chan Sithu.
“Kami menginginkan pemerintah yang memperlakukan orang dengan hormat. Generasi saya akan menjadi yang terakhir melawan junta militer,” paparnya menambahkan.
Demonstrasi menentang pemerintahan junta militer terus meluas di Myanmar sejak tiga pekan terakhir.
Sehari sebelumnya, bentrokan antara pedemo anti-kudeta dan loyalis militer Myanmar terjadi di Yangon. Bentrokan bermula ketika sekitar 1.000 loyalis militer menyerang pendukung pro-demokrasi dengan pisau dan senjata tajam lain.
Beberapa pedemo pro-demokrasi dikabarkan terluka dan dua orang ditikam.
Masyarakat sipil yang terdiri dari muda-mudi, mahasiswa, pegawai negeri sipil hingga tenaga medis ikut berunjuk rasa dan mogok kerja menuntut kekuasaan pemerintahan yang digulingkan dipulihkan.
Tak hanya itu, sejumlah media di Myanmar juga berkeras tak ingin mengikuti desakan junta militer dan tetap akan menggunakan kata-kata seperti “kudeta” dalam mewartakan situasi di negara tersebut.
Selain sanksi dari berbagai negara dan organisasi internasional, Bank Dunia menghentikan investasi pada sejumlah proyek di Myanmar.
Tahun lalu, Bank Dunia menyetujui lebih dari U$350 juta dana pinjaman dan hibah baru untuk membantu Myanmar menangani pandemi corona termasuk untuk subsidi bagi para petani dan buruh di pedesaan.
Meski begitu, Presiden Bank Dunia, David Mal, mengatakan pihaknya tetap menggelontorkan sejumlah dana esensial bagi Myanmar termasuk bantuan darurat virus corona.
-
OASE04/10/2026 05:00 WIBJin Itu Ada, Tapi Jangan Asal Percaya Hantu
-
RAGAM04/10/2026 15:35 WIBAzka Corbuzier Debut Akting Lewat Home, Almost, Tayang Perdana di New York
-
EKBIS04/10/2026 07:00 WIBZulhas: Gaji Manajer Kopdes Rp8,3 Juta Bersumber dari APBN
-
NASIONAL04/10/2026 06:00 WIBAncaman Air Bah Mengintai, Ijeck ‘Sidak’ Langsung Benteng Raksasa Sungai Sei Padang
-
NASIONAL04/10/2026 13:00 WIBGerebek Klaten! Densus 88 Ringkus 2 Terduga Teroris di Kontrakan
-
NUSANTARA04/10/2026 13:30 WIBBMKG Bongkar Penyebab Udara Makassar Mendadak Tak Sehat
-
DUNIA04/10/2026 15:00 WIB1.540 Milisi Houthi Tumbang Dihantam 474 Serangan Militer Yaman
-
JABODETABEK04/10/2026 05:30 WIBBMKG: Sore Hujan Petir di Jakarta