Connect with us

DUNIA

Kapal Penyebar Ranjau Iran di Dekat Selat Hormuz Diserang Pasukan AS

Aktualitas.id -

Kapal milik Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) terlihat dalam sebuah upacara peringatan Hari Teluk Persia Nasional di Teluk Persia dekat Bushehr, Iran, pada 29 April 2024. (Xinhua/Shadati).

AKTUALITAS.ID – UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) mengatakan bahwa eskalasi militer di kawasan teluk telah mengganggu arus pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut, beserta sejumlah besar gas alam cair dan pupuk.

Komando Pusat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (10/3/2026) melaporkan mereka telah menyerang 16 kapal penyebar ranjau Iran di dekat Selat Hormuz.

“Pasukan AS menghancurkan sejumlah kapal Angkatan Laut (AL) Iran pada 10 Maret, termasuk 16 kapal penyebar ranjau di dekat Selat Hormuz,” demikian disampaikan Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.

Sebuah video yang disertakan dalam unggahan tersebut menunjukkan amunisi menghantam sembilan kapal, yang sebagian besar tampak sedang berlabuh saat serangan terjadi.

Belum diketahui jelas apakah Iran telah memasang ranjau laut di perairan tersebut sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran akan menggunakan rudal dan kapal selam untuk menghentikan pergerakan armada AS dan sekutunya yang melintasi Selat Hormuz, menurut Komandan AL Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran Alireza Tangsiri, pada Selasa (10/3) dalam sebuah unggahan di X.

Unggahan tersebut membantah klaim sebelumnya dari AS bahwa AL mereka mengawal kapal tanker minyak yang melintasi jalur perairan penting tersebut.

Gangguan terhadap lalu lintas maritim baru-baru ini di Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi efek riak pada pasar energi, transportasi maritim, dan rantai pasokan global, menurut Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UN Conference on Trade and Development/UNCTAD) pada Selasa.

(Purnomo/goeh)

TRENDING