Connect with us

DUNIA

Trump Sesumbar Akan Kuasai Minyak Iran & Buka Selat Hormuz

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait konflik Timur Tengah dengan menyebut negaranya berpotensi mengambil alih minyak Iran dan membuka jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Dalam unggahan di media sosial pada Jumat (3/4/2026), Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat mampu membuka kembali akses di Selat Hormuz yang saat ini dibatasi oleh Iran.

“Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah membuka Hormuz, mengambil minyak, dan menjadikannya sumber keuntungan,” tulis Trump, seperti dikutip Al Jazeera.

Ia bahkan kembali menegaskan gagasan tersebut dalam pernyataan lanjutan dengan menyebut opsi penguasaan minyak sebagai langkah strategis.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, karena menjadi rute utama distribusi minyak dan gas global.

Sejak konflik meningkat antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, akses di wilayah tersebut mengalami pembatasan yang berdampak pada pasar energi global.

Meski demikian, militer AS disebut masih berhati-hati untuk terlibat langsung dalam pengawalan kapal tanker, mengingat tingginya risiko serangan di kawasan perairan sempit tersebut.

Pernyataan Trump dinilai memicu kontroversi karena menyentuh isu kedaulatan sumber daya alam suatu negara.

Dalam hukum internasional, termasuk resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1962, sumber daya alam seperti minyak berada di bawah kedaulatan penuh negara masing-masing.

Di sisi lain, pemerintah Iran mengecam keras serangan terhadap infrastruktur sipil dan menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negara.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini juga belum menunjukkan tanda mereda, dengan serangan balasan terus terjadi menggunakan drone dan rudal.

Pernyataan Donald Trump menambah panas situasi geopolitik di Timur Tengah. Dunia kini menanti langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas global, terutama sektor energi. (Mun)

TRENDING