EKBIS
Rupiah Menguat Signifikan, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Positif Global
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (24/6/2025). Penguatan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan gencatan senjata total antara Iran dan Israel, menciptakan sentimen positif di pasar global.
Berdasarkan data dari Bloomberg pukul 09.10 WIB, rupiah menguat sebesar 106,5 poin atau 0,65% ke level Rp 16.385,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS pun turun 0,16 poin menjadi 98,25, menunjukkan melemahnya dolar di tengah optimisme pasar.
Pada perdagangan hari sebelumnya, Senin (23/6/2025), rupiah sempat melemah 95,5 poin atau 0,58% ke level Rp 16.492 per dolar AS. Namun, hari ini, sentimen positif dari berita diplomatik global memicu penguatan mata uang domestik.
Dikutip dari Reuters, pasar global merespons positif setelah Trump menyatakan kesepakatan damai yang lengkap dan menyeluruh akan diimplementasikan untuk mengakhiri konflik bersenjata selama 12 hari antara Iran dan Israel. Pejabat Iran dan Qatar mengonfirmasi bahwa Teheran menyetujui kesepakatan tersebut, sementara media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menyetujuinya setelah berdiskusi langsung dengan Trump, dengan syarat Iran menghentikan serangannya.
Kabar ini turut mendongkrak penguatan mata uang yang sensitif terhadap risiko, seperti dolar Australia (Aussie) yang menguat 0,35% ke US$ 0,6483 dan dolar Selandia Baru (kiwi) naik 0,37% ke US$ 0,5998. Ahli strategi valas dari National Australia Bank, Rodrigo Catril, menyebutkan bahwa ini merupakan kabar positif bagi sentimen risiko global.
Di sisi lain, dolar AS yang sebelumnya menguat karena statusnya sebagai aset safe haven, mulai melemah terhadap mayoritas mata uang utama. Dolar turun 0,21% terhadap yen Jepang ke level 145,79. Euro naik 0,21% ke US$ 1,1602, dan pound sterling menguat 0,18% ke US$ 1,3551.
Serangan rudal Iran ke pangkalan udara AS di Qatar sebelumnya disebut sebagai respon lemah atas serangan udara Washington ke fasilitas nuklir Teheran, dan tidak menimbulkan korban jiwa. Selain faktor geopolitik, dolar juga mendapat tekanan dari pernyataan dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed), yang menilai bahwa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat perlu dipertimbangkan.
Anggota Dewan Gubernur Michelle Bowman menyatakan bank sentral AS sebaiknya mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, sementara Gubernur Christopher Waller menyatakan kesiapan mendukung langkah tersebut di rapat Juli mendatang. Probabilitas pemangkasan suku bunga di bulan Juli meningkat menjadi 20%, dari sebelumnya 14,5%, menurut CME FedWatch Tool.
Ketua The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan memberikan kesaksian di depan Kongres hari ini dan besok, yang akan menjadi indikator penting bagi prospek kebijakan moneter ke depan. (Yoke Firmansyah/Mun)
-
RIAU10/04/2026 07:00 WIBDiduga Dibunuh, Sorang Pria Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Bengkalis
-
JABODETABEK10/04/2026 06:00 WIBSIM Keliling Jumat di Lima Lokasi Jakarta
-
OLAHRAGA10/04/2026 08:00 WIBPiala Dunia 2026, Bakal Dipimpin 52 Wasit Utama
-
RAGAM10/04/2026 10:30 WIBMinum Kopi Telur Khas Vietnam, Ini Dampak Yang Timbul
-
RIAU10/04/2026 12:00 WIBBongkar Dua Aksi Sekaligus, Soliditas Sinergi Personel Lanud RSN–Avsec Gagalkan Penyelundupan 4 Kg Sabu
-
FOTO10/04/2026 18:35 WIBFOTO: Momen Pesawat Kepresidenan Dikawal Empat F-16 dan Dua T50 Golden Eagle
-
OTOTEK10/04/2026 11:30 WIBIni Bedanya Biaya Penggunaan Mobil Listrik dan Konvensional
-
OLAHRAGA10/04/2026 13:00 WIBIPSI: Mayoritas Anggota Inginkan Prabowo Jadi Ketua Umum

















