EKBIS
BPH Migas Jamin Pasokan BBM di Aceh, Meski Akses Terbatas
AKTUALITAS.ID – Hasil monitoring Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH- Migas), keringanan pembelian BBM subsidi dan kompensasi berjalan efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat terkena bencana serta upaya-upaya pemulihan pascabencana.
BPH Migas menjamin pasokan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, meski akses jalan di sejumlah lokasi masih terbatas.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, mengatakan, pihaknya bersama PT Pertamina Patra Niaga berupaya keras menormalisasi pasokan BBM di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah Provinsi Aceh.
“Secara umum, pasokan BBM di provinsi ini dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak, sebanyak 97 persen SPBU telah beroperasi kembali,” katanya saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sabtu kemarin.
Wahyudi memastikan meski infrastruktur jalan terputus, distribusi BBM dipastikan tetap menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil, seperti Desa Uning Mas, Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.
“Saat ini Aceh diberikan keringanan pembelian BBM bersubsidi secara manual (tidak menggunakan barcode) agar masyarakat tidak panic buying, mempermudah masyarakat melakukan aktivitasnya, sekaligus menyalakan genset yang diberikan pemerintah untuk penerangan sementara,” paparnya, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Wahyudi melanjutkan akses ke Bener Meriah dan Aceh Tengah yang masih dalam perbaikan, menjadikan kapasitas armada mobil tangki yang dapat melewati jalan di wilayah tersebut hanya sekitar 8 kiloliter.
Kondisi ini mengharuskan tim di lapangan menerapkan sistem khusus yaitu menggunakan jerigen atau drum yang disiapkan Pertamina dan diangkut menggunakan kendaraan double cabin 4×4 untuk masuk ke desa-desa yang terisolasi.
Suplai BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe juga disiapkan di Blang Rakal.
“Kami telah meninjau langsung lokasi hub suplai atau fuel terminal bayangan di Blang Rakal, Bener Meriah. BBM yang dibawa dari Integrated Terminal Lhokseumawe menggunakan truk tangki berkapasitas 16 kl, dipindahkan (transfer) ke truk yang lebih kecil berkapasitas 8 kl, dan selanjutnya secara estafet disalurkan ke lokasi dengan menggunakan jerigen atau drum. Ini bukti kehadiran negara di daerah bencana,” tambahnya.
Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan kebutuhan Biosolar di Aceh pada 2025 termasuk penanganan bencana alam, mencapai 428.324 kl.
Sedangkan, realisasi penyaluran Pertalite termasuk untuk kebencanaan mencapai 576.147 kl.
Selama bencana akhir November hingga Desember 2025, terjadi peningkatan kebutuhan BBM sebanyak 8 persen.
Wahyudi mengungkapkan upaya luar biasa Pertamina Group untuk menormalisasi penyaluran BBM di daerah terdampak bencana.
“Pertamina Patra Niaga memiliki tanggung jawab penuh untuk melakukan normalisasi penyediaan dan penyaluran BBM. Kami membantu memperlancar penyaluran BBM untuk masyarakat dan tentunya implementasinya sesuai tata kelola yang berlaku,” katanya.
Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto juga mengapresiasi Pertamina Patra Niaga atas kerja keras dan kerja sama yang baik, sehingga penyaluran BBM dapat dilaksanakan melalui pelbagai moda transportasi baik udara, laut, maupun darat.
Ia juga mengatakan keringanan pembelian BBM yang diberikan BPH Migas selama masa tanggap darurat harus dimanfaatkan dengan baik sesuai peruntukannya.
“Keringanan yang diberikan dalam pembelian BBM, pada awal pemberlakuan telah dilakukan sosialisasi dan nanti sejalan berakhirnya masa tanggap darurat, juga perlu dilakukan sosialisasi supaya masyarakat tidak kaget,” tambahnya.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Sumatera Bagian Utara Sunardi menegaskan pasokan BBM di Aceh dalam keadaan aman.
Kondisi stok saat ini Biosolar mencapai 5 hari, Pertalite 5,6 hari. Kondisi akan bertambah dengan akan datangnya kapal BBM dalam waktu dekat.
Di lokasi hub suplai BBM ke Bener Meriah dan Aceh Tengah, saat ini dioperasikan 8 unit mobil 16 kl sebagai feeder dan 10 unit mobil 8 kl untuk menyuplai 4 SPBU di Bener Meriah dan 4 SPBU di Aceh Tengah.
“Posisi saat ini dari kondisi normal, suplai kami sudah bisa meng-cover untuk Bener Meriah sekitar 85 persen dari kebutuhan normal, sedangkan untuk yang Aceh Tengah, sekitar 75 persen kebutuhan normal. Mudah-mudahan nanti perkembangan jalurnya kalau mobil 16 kl sudah bisa masuk, hub kita tutup. Jadi penyaluran dapat normal kembali, langsung dari Depot Lhokseumawe ke Bener Meriah maupun ke Aceh Tengah,” sebutnya.
(Ari Wibowo/goeh)
-
NASIONAL13/03/2026 21:43 WIBWakil Koordinator KontraS Disiram Air Keras di Jakarta Pusat
-
NASIONAL13/03/2026 22:30 WIBKontraS Ungkap Kronologi Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
-
NASIONAL13/03/2026 20:00 WIBDPR Tegaskan Tidak Ada Larangan Mudik Pakai Motor
-
RIAU13/03/2026 20:45 WIBPolda Riau Buka Puasa Bersama Anak Panti Asuhan, Kenalkan Program Green Policing
-
NUSANTARA13/03/2026 20:30 WIBLegislator PKB Serang Diduga Lecehkan Relawan Dapur MBG
-
NASIONAL13/03/2026 23:33 WIBAndrie Yunus Alami Luka di Wajah dan Dada Akibat Serangan Air Keras
-
NASIONAL13/03/2026 22:00 WIBMahasiswa Malang Sebut BoP Khianati UUD 1945
-
PAPUA TENGAH13/03/2026 19:15 WIBSatgas Damai Cartenz Olah TKP Penembakan Karyawan Freeport di Grasberg

















