Connect with us

EKBIS

Trump Blokade Selat Hormuz, Rupiah Langsung ‘Kebakaran’ Bersama Mata Uang Asia

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (13/4/2026). Tekanan eksternal dan penguatan dolar AS di pasar global menjadi faktor utama pelemahan mata uang Garuda.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka melemah sebesar 17 poin atau 0,10% ke level Rp17.121 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.104 per dolar AS.

Sementara itu, data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB mencatat rupiah berada di level Rp17.137 per dolar AS atau turun 33 poin (0,19%). Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,38% ke level 99,031, menunjukkan dominasi greenback di pasar global.

Data lain dari Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.107 per dolar AS, melemah dibandingkan pembukaan perdagangan Jumat pekan lalu di level Rp17.077 per dolar AS.

Senada, data Refinitiv mencatat rupiah sempat dibuka di level Rp17.100 per dolar AS atau melemah 0,09%. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan tipis pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Secara regional, tekanan terhadap mata uang Asia juga terlihat signifikan. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,81%, diikuti peso Filipina 0,72% dan won Korea Selatan 0,48%. Yen Jepang turut melemah 0,27%, sementara dolar Singapura turun 0,21%.

Ringgit Malaysia terkoreksi 0,16% dan yuan China melemah 0,08%. Dolar Hong Kong juga turun tipis 0,009%. Hanya dolar Taiwan yang mampu menguat tipis sebesar 0,06% terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu pemicu utama adalah menguatnya dolar AS akibat meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.

Ketidakpastian tersebut dipicu oleh memanasnya kembali tensi geopolitik, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz. Kebijakan ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 30% dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Selain itu, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed), yang masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan nilai tukar global.

Dari dalam negeri, survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan optimisme ekonomi masih terjaga. Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) tercatat sebesar 115,4 pada Maret 2026, meski sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya.

Namun demikian, sentimen domestik belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal yang mendominasi pergerakan rupiah saat ini.

Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif sepanjang hari ini, seiring kuatnya sentimen global. Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global sebagai faktor utama penggerak pasar valuta asing. (Firmansyah/Mun)

TRENDING