EKBIS
Asia Menghijau, Rupiah Malah Tersungkur ke Rp17.180
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada akhir pekan lalu. Meski sempat menguat di awal perdagangan Senin (20/4/2026), tekanan terhadap mata uang Garuda masih belum mereda.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,32% ke level Rp17.180 per dolar AS pada Jumat (17/4/2026). Level tersebut menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang masa, sekaligus mendekati batas psikologis Rp17.200 per dolar AS.
Dalam sepekan, rupiah tercatat melemah hingga 0,56%, mencerminkan tekanan yang cukup kuat di pasar valuta asing.
Memasuki perdagangan Senin (20/4/2026), rupiah menunjukkan tanda pemulihan. Mata uang Garuda dibuka menguat sekitar 0,20%–0,23% ke kisaran Rp17.140–Rp17.155 per dolar AS.
Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level Rp17.166 per dolar AS, sementara data lain menunjukkan pergerakan di kisaran Rp17.152 hingga Rp17.155 per dolar AS pada pagi hari.
Penguatan ini menjadi rebound setelah pelemahan tajam di akhir pekan sebelumnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat sekitar 0,22%–0,26% ke level 98,3 pada pagi hari. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang global, termasuk rupiah.
Bahkan, data TradingView menunjukkan rupiah sempat dibuka melemah ke Rp17.184 per dolar AS, seiring penguatan greenback di pasar global.
Berbeda dengan tren mingguan yang menunjukkan mayoritas mata uang Asia menguat, pada perdagangan pagi ini sejumlah mata uang kawasan justru mengalami pelemahan.
Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, diikuti baht Thailand, dolar Singapura, dan yen Jepang. Sementara itu, dolar Taiwan dan peso Filipina justru mencatatkan penguatan terbatas.
Data TradingEconomics menunjukkan rupiah telah melemah sekitar 1,63% dalam sebulan terakhir dan turun 1,91% dalam 12 bulan terakhir.
Secara historis, April 2026 menjadi periode pelemahan terdalam rupiah, bahkan sempat menyentuh level Rp17.210 per dolar AS.
Meski dibuka menguat, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif sepanjang hari. Pelaku pasar terus mencermati pergerakan indeks dolar AS, kebijakan moneter global, serta kondisi ekonomi domestik.
Selain itu, rilis data ekonomi dan arah kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi faktor penentu stabilitas nilai tukar ke depan.
Dengan tekanan global yang masih kuat dan dolar AS yang perkasa, rupiah diperkirakan belum sepenuhnya keluar dari fase volatilitas tinggi. Level Rp17.200 kini menjadi batas psikologis penting yang terus dibayangi pasar. (Firmasnyah/Mun)
-
PAPUA TENGAH24/04/2026 06:00 WIBMeraba Misi Digitalisasi Dukcapil Mimika Menuju Integrasi Satu Data
-
NASIONAL24/04/2026 07:00 WIBKasus Kuota Haji, Khalid Basalamah Kembalikan Rp8,4 M ke KPK
-
JABODETABEK24/04/2026 06:30 WIBJangan Lupa, Perpanjang SIM di Lokasi Ini
-
NASIONAL24/04/2026 09:30 WIB263 Narapidana Berisiko Tinggi Dipindahkan ke Nusakambangan
-
EKBIS24/04/2026 10:00 WIBBaru Terjadi Sepanjang Sejarah, Stok Beras RI Tembus 5 Juta Ton
-
RAGAM24/04/2026 11:00 WIBHati-hati! Obat Kumur Bisa Menyebabkan Hipertensi
-
PAPUA TENGAH24/04/2026 12:00 WIBDansatgas Tinjau Progres Pembangunan TMMD di Kampung Keakwa
-
OLAHRAGA24/04/2026 11:30 WIBJanice Tjen/Aldila Sutjiadi Melaju ke 16 Besar Madrid Open 2026