Connect with us

EKBIS

IHSG Ambruk 32 Persen Sepanjang 2026

Aktualitas.id -

Ilustrasi IHSG ambruk, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Sejak pembukaan pasar, indeks langsung terperosok ke zona merah dan terus memperdalam pelemahannya hingga menyentuh level terendah sejak November 2020.

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG melemah 67,51 poin atau 1,14 persen ke level 5.873. Namun tekanan jual yang masif membuat pelemahan semakin dalam. Pada pukul 09.29 WIB, IHSG tercatat anjlok hingga 3,13 persen ke level 5.755.

Bahkan dalam pergerakan intraday, indeks sempat jatuh lebih dalam hingga 229,6 poin atau 3,86 persen ke level 5.687,37. Posisi tersebut menjadi titik terendah IHSG dalam hampir enam tahun terakhir.

Data perdagangan menunjukkan dominasi aksi jual yang sangat kuat. Sebanyak 567 saham bergerak di zona merah, hanya 74 saham yang menguat, sementara 82 saham lainnya stagnan.

Sejumlah saham bahkan langsung menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) dan masuk dalam daftar top losers pada perdagangan pagi ini.

Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau sangat tinggi. Dalam satu jam pertama perdagangan, nilai transaksi mencapai Rp7,44 triliun dengan volume perdagangan sekitar 13,85 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi mencapai 804.868 kali.

Tekanan terhadap IHSG tidak hanya terjadi dalam perdagangan harian. Dalam lima hari terakhir, IHSG telah terkoreksi 5,59 persen. Secara bulanan indeks melemah 17,49 persen, sementara dalam tiga bulan turun 28,65 persen dan enam bulan terkoreksi 30,20 persen.

Sepanjang tahun 2026, IHSG bahkan telah kehilangan lebih dari 32 persen nilainya, mencerminkan tekanan besar yang tengah membayangi pasar modal Indonesia.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) sebelumnya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan fase konsolidasi dengan kecenderungan pelemahan dan penguatan yang terbatas.

Analis menilai aksi jual besar-besaran yang terjadi sejak awal perdagangan menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap berbagai sentimen ekonomi global maupun domestik. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memilih menunggu arah pasar yang lebih jelas.

Dengan tekanan yang masih dominan, pelaku pasar kini mencermati apakah IHSG mampu bertahan di atas level psikologis penting atau justru melanjutkan penurunan hingga sesi perdagangan berikutnya. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version