EKBIS
Sejarah Kelam! Rupiah Tembus Rp18.027 per Dolar
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan sejarah kelam setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pelemahan tersebut menjadikan mata uang Garuda berada di salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah.
Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp18.016 per dolar AS atau melemah 49 poin dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.966 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.05 WIB rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.003 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga mata uang Garuda menyentuh Rp18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB.
Tak lama kemudian, pada pukul 10.24 WIB, rupiah kembali melemah ke posisi Rp18.027 per dolar AS atau turun 0,34 persen. Level tersebut menjadi salah satu titik terendah yang pernah dicapai rupiah dan memperkuat tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, disusul peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand, dan yuan China.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang turut mengalami tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung bersamaan dengan koreksi tajam di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok lebih dari 4 persen pada perdagangan pagi, menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan sentimen global.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.
Sementara itu, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS yang mendapat dukungan dari meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, tensi geopolitik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong investor global mencari aset aman, sehingga memperkuat posisi dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini menanti langkah otoritas moneter dan perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. (Firman/Mun)
-
NASIONAL03/06/2026 15:00 WIBDicopot dari Kepala BGN, Ini Rincian Harta Kekayaan Dadan Hindayana
-
NASIONAL03/06/2026 19:00 WIBRentetan Kontroversi Dadan Hindayana Selama di BGN
-
NUSANTARA03/06/2026 16:00 WIBKampus UNP Diteror Peluru Nyasar Sejak 2010
-
NASIONAL03/06/2026 18:01 WIBUsai Dadan Lengser dari BGN, KSP Dudung Beberkan Dugaan Jual Beli Dapur MBG
-
NASIONAL03/06/2026 14:00 WIBDPR: Fenomena Rupiah Lemah dan Serbuan Turis Tak Bisa Dibiarkan
-
NUSANTARA03/06/2026 17:00 WIBPolda DIY Tetapkan Lurah Condongcatur Sebagai Tersangka Korupsi Tanah Kas Desa
-
POLITIK03/06/2026 15:33 WIBPolemik Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Dasco: Diplomasi Bersifat Dinamis
-
NASIONAL03/06/2026 16:30 WIBKantor BGN Digeledah Kejagung, Sahroni Sebut Bukti Keseriusan Prabowo