OTOTEK
Perang Chip AI AS dan China Memanas
AKTUALITAS.ID – Baik AS maupun China saat ini tengah berlomba dalam menghadirkan kemandirian teknologi AI, yang membuka jalan bagi kesenjangan yang lebih dalam dalam inovasi global.
Perang chip kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) antara Amerika Serikat dan China terus memanas setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan tidak mengizinkan Nvidia menjual chip AI Blackwell terbarunya ke China.
Pelarangan penjualan produk Nvidia ke pasar China itu terkonfirmasi oleh Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt yang menyatakan,”Chip Blackwell bukanlah sesuatu yang ingin kami jual ke China saat ini”, sebagaimanayang dilaporan Gizmochina, Jumat pekan kemarin.
Keputusan ini menyusul spekulasi selama berbulan-bulan mengenai kemungkinan penjualan versi chip yang lebih kecil dari AS ke pasar China.
Langkah ini sejalan dengan strategi Presiden Trump untuk mempertahankan keunggulan teknologi AS dalam pengembangan AI dan mencegah China sebagai kompetitor mengakuisisi perangkat keras canggih dari AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menyebut chip Blackwell Nvidia sebagai “permata mahkota” inovasi AI Amerika.
Ia menyatakan bahwa penjualan ke China mungkin baru akan dipertimbangkan kembali setelah chip tersebut tersebar luas di pasar lain dalam 12 hingga 24 bulan.
Menurut Bessent, laju inovasi Nvidia yang pesat berarti Blackwell akan segera tertinggal beberapa generasi dari model-model terbaru perusahaan.
Akibat pelarangan ini, posisi Nvidia di China merosot tajam. Setelah menguasai 95 persen pasar pusat data AI Tiongkok pada 2022, perusahaan tersebut kini kehilangan pangsa pasar.
CEO Nvidia Jensen Huang telah menyatakan harapan bahwa Nvidia pada akhirnya akan kembali ke pasar China, tetapi mengakui bahwa saat ini belum ada rencana untuk melakukannya.
Nvidia dilaporkan sedang mendesain ulang chip B30A-nya dengan harapan dapat memenuhi persyaratan ekspor AS di masa mendatang.
Sebagai respons, pemerintah China telah memerintahkan agar semua proyek pusat data baru yang menerima dana negara hanya boleh menggunakan chip AI produksi dalam negeri.
Proyek yang penyelesaiannya kurang dari 30 persen diwajibkan untuk menghapus atau membatalkan pesanan chip asing, sementara proyek yang lebih maju akan ditinjau secara individual.
Arahan ini merupakan salah satu langkah paling agresif yang diambil China dalam mencapai swasembada chip AI dan diharapkan akan menguntungkan produsen domestik seperti Huawei, Cambricon, dan MetaX.
Namun, analis industri memperingatkan bahwa chip AI China masih tertinggal dari produk Nvidia dalam hal kinerja dan dukungan ekosistem perangkat lunak, sehingga berpotensi memperlambat perkembangan AI di negeri Tirai Bambu itu.
AS mempertahankan keunggulannya dalam AI, sementara China mempercepat dorongan pada industri semikonduktor domestiknya.
Nvidia dan pembuat chip Amerika lainnya kehilangan akses ke salah satu pasar terbesar di dunia, sementara perusahaan chip China terlihat seakan berpeluang menguasai pasar meskipun dengan mengorbankan kemajuan yang lebih lambat dalam kemampuan AI tingkat tinggi.
(Ari Wibowo/goeh)
-
NASIONAL28/03/2026 20:30 WIBMantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono Tutup Usia
-
DUNIA28/03/2026 18:30 WIBTeknis Pembebasan 2 Kapal Indonesia dari Selat Hormuz, Mulai Dibahas
-
DUNIA28/03/2026 15:00 WIBKomandan Militer Israel Wanti-wanti IDF Bisa Ambruk di Tengah Perang Iran
-
EKBIS28/03/2026 19:00 WIBAmran: Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Negara Kuat
-
NASIONAL28/03/2026 14:00 WIBKPK Disebut Abaikan Permintaan MCU Immanuel Ebenezer
-
OTOTEK28/03/2026 14:30 WIBTikTok Siapkan Fitur Aman untuk Remaja 16 Tahun
-
PAPUA TENGAH28/03/2026 19:29 WIBResmi Dilantik, Ketua IKKRO Mimika Dorong Sinergi Pembangunan
-
PAPUA TENGAH28/03/2026 16:00 WIBPatroli Intensif, Situasi Kapiraya dan Kampung Wakia Tetap Kondusif















