RAGAM
Ahli Jepang Tunjuk Wilayah Berbahaya di Indonesia Pasca Peta Gempa 2024
AKTUALITAS.ID – Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat penambahan jumlah zona megathrust menjadi 14 titik, menandai potensi bahaya gempa yang lebih tinggi dibanding rilis 2017. Kontur bahaya di sejumlah wilayah kini terlihat lebih rapat, memicu perhatian dari para ahli internasional.
Kosuke Heki, Profesor dari Hokkaido University, menilai karakter geologi Indonesia mirip dengan zona Nankai Trough di Jepang, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.
“Kami memahami gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval 50–100 tahun. Pandangan klasik ini penting sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional, dikutip Minggu (15/3/2026).
Heki menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang, memanfaatkan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.
“Terjadi kopling antar seismik yang saling mengunci hampir sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelasnya.
Ahli Jepang ini juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat, yang bergerak perlahan namun dapat menjadi indikator awal gempa besar. Ia menyarankan Indonesia mengembangkan sistem pemantauan serupa di banyak zona subduksi aktif, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.
Dalam peta terbaru, zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi gempa terbesar hingga magnitudo 9,2, sedangkan Megathrust Jawa mencapai magnitudo 9,1. Zona Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing memiliki potensi hingga magnitudo 8,9.
BMKG juga menyoroti dua zona megathrust yang masih mengalami seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, yang belum melepaskan energi besar sejak gempa terakhir pada 1757 dan 1797.
BMKG menegaskan, istilah “menunggu waktu” bukan prediksi kapan gempa akan terjadi, tetapi menunjukkan akumulasi energi yang tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. (Firmansyah/Mun)
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 23:00 WIBAntusiasme Tinggi Warnai Upacara Hardiknas di SD Naena Kekwa Bersama Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika
-
JABODETABEK02/05/2026 19:00 WIBKoridor Baru Layanan Biskita Trans Depok Mulai Dikembangkan
-
POLITIK02/05/2026 18:30 WIBMegawati: Pancasila Harus Jadi Ruh Hukum di Tengah Hiper-Regulasi
-
NASIONAL02/05/2026 18:00 WIBKPAI Minta Proses Hukum Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren Ciawi
-
DUNIA02/05/2026 19:30 WIBUSS Gerald R. Ford Tinggalkan Timur Tengah
-
OLAHRAGA02/05/2026 20:00 WIBPeran Indonesia di Motorsport Global Diperkuat Pertamina
-
NUSANTARA03/05/2026 06:30 WIBEmpat Pembunuh Wanita Lansia di Pekanbaru Ditangkap di Aceh dan Sumut
-
JABODETABEK03/05/2026 05:30 WIBCuaca Jakarta 3 Mei: Semua Wilayah Basah