RAGAM
Anomali “Swiss Kecil” India: Bagaimana Partai Komunis Kerala Berhasil Hapus Total Kemiskinan Ekstrem?
AKTUALITAS.ID – India, raksasa Asia Selatan dengan populasi 1,45 miliar jiwa, sering kali hadir dalam benak global dengan citra yang kontras. Di satu sisi sebagai kekuatan ekonomi yang bangkit, namun di sisi lain masih berjibaku dengan ketimpangan tajam dan kemiskinan ekstrem. Stereotip negatif tentang kekumuhan di media sosial kerap menutupi realitas kompleks negara tersebut.
Namun, di ujung barat daya India, terdapat sebuah anomali yang menakjubkan. Kerala, negara bagian yang sering dijuluki “Swiss Kecil”, menawarkan narasi yang sama sekali berbeda.
Di bawah kepemimpinan Front Demokratik Kiri (LDF) yang dimotori oleh Partai Komunis India (Marxis) atau CPI(M), Kerala berhasil mencatatkan pencapaian historis pada November 2025. Kerala resmi menjadi negara bagian pertama di India yang sepenuhnya bebas dari kemiskinan ekstrem.
Pencapaian ini bukanlah kebetulan semalam, melainkan hasil dari eksperimen politik dan sosial panjang. Ini adalah kisah bagaimana sebuah gerakan komunis—yang di tingkat nasional kerap kembang kempis dihajar perpecahan ideologis—berhasil membangun fondasi negara kesejahteraan (welfare state) yang kokoh di tingkat lokal melalui pragmatisme dan demokrasi partisipatif.
Akar Gerakan: Perlawanan Anti-Kolonial dan Lahirnya CPI
Sejarah komunisme di India tidak bisa dilepaskan dari gerakan anti-kolonial melawan pendudukan Inggris. Pada dekade 1920-an dan 30-an, khususnya di India Selatan, kelompok kiri mulai mengorganisasi pergerakan yang dimotori oleh kaum buruh dan petani.
Awalnya, gerakan ini bergerak di bawah tanah karena aturan ketat pemerintah kolonial yang melarang ideologi komunis. Bagi Inggris, komunisme identik dengan perlawanan terhadap kedaulatan Raja. Namun, pada 26 Desember 1925, Communist Party of India (CPI) akhirnya resmi didirikan di Kanpur, menjadi partai komunis tertua di negara itu.
Di Kerala, gerakan kiri mendapat pijakan kuat melalui pemberontakan petani dan buruh yang menjadi basis massa loyal. Menariknya, sebelum membentuk entitas independen pada tahun 1940, kaum komunis sempat bergabung dalam Partai Sosialis Kongres sebagai strategi oportunis melawan dominasi Inggris.
Namun, “pernikahan” ini tidak bertahan lama akibat keretakan ideologis. Momen pengusiran golongan kiri dari Partai Kongres pada 1940 justru memicu konsolidasi gerakan komunis independen yang bergerak dari bawah tanah.
Prahara Perpecahan: Dampak Konflik Sino-Soviet
Meski memiliki basis massa kuat di daerah, perjalanan Partai Komunis India di tingkat nasional tidak mulus. Perpecahan besar (The Great Split) terjadi pada tahun 1964, dipicu oleh perselisihan ideologis global antara Tiongkok dan Uni Soviet.
Ketegangan ini merembes ke internal CPI. Sebuah faksi kuat yang berbasis di Kerala dan Benggala Barat memilih berpisah dan membentuk Partai Komunis India (Marxis) atau CPI(M).
Ironisnya, meskipun berpisah secara nasional, kedua partai ini di Kerala seringkali menjalin koalisi pragmatis dalam wadah Front Demokratik Kiri (LDF) untuk memenangkan pemilu melawan rival nasionalis mereka.
“Model Kerala”: Fondasi Sukses Mengatasi Kemiskinan
Di tengah sejarah perpecahan nasional tersebut, Kerala justru menjadi laboratorium keberhasilan pemerintahan kiri. Kuncinya terletak pada pendekatan unik: mereka tidak menghancurkan demokrasi, melainkan memanfaatkannya.
Sejak kemenangan pemilu bersejarah pada tahun 1957—di mana pemerintahan komunis terpilih secara demokratis pertama di dunia terbentuk di bawah E.M.S. Namboodiripad—Kerala menempuh jalan berbeda melalui apa yang dikenal sebagai “Model Kerala”.
1. Reformasi Agraria dan Pendidikan Gratis
Begitu berkuasa pada 1957, pemerintahan Namboodiripad meluncurkan reformasi agraria masif. Kebijakan ini meruntuhkan struktur feodal dengan meredistribusi tanah kepada 1,5 juta petani tak bertanah, memberikan mereka daya ungkit ekonomi.
Di saat yang sama, Kerala menerapkan pendidikan gratis dan layanan kesehatan universal. Hasilnya fenomenal. Tingkat melek huruf Kerala melonjak dari sekitar 47% pada 1951 menjadi hampir 95% pada 2011, jauh di atas rata-rata nasional India.
2. Menghapus Kemiskinan Ekstrem dengan Data Presisi
Keberhasilan puncak Kerala diumumkan oleh Ketua Menteri Pinarayi Vijayan pada 1 November 2025: penghapusan total kemiskinan ekstrem. Ini dicapai melalui Extreme Poverty Eradication Project (EPEP) yang diluncurkan pada 2021.
Pendekatannya tidak lagi menggunakan garis kemiskinan berbasis pengeluaran per kapita yang usang, melainkan pendekatan multidimensi yang riil. Melalui verifikasi data berlapis yang melibatkan 400 ribu enumerator hingga validasi langsung di Rapat Warga Desa, pemerintah mengidentifikasi 64.006 keluarga yang benar-benar miskin ekstrem.
Dengan data perencanaan tingkat mikro (micro-level planning) yang presisi ini, intervensi negara menjadi tepat sasaran, mulai dari bantuan pangan langsung, akses kesehatan gratis di rumah, hingga pelatihan keterampilan dan perumahan.
3. Demokrasi Partisipatif dan Peran Perempuan
Keunggulan lain dari “Model Kerala” adalah desentralisasi kekuasaan. Melalui People’s Plan Campaign sejak 1996, perencanaan pembangunan dilakukan secara bottom-up (dari bawah ke atas) melalui majelis desa, meminimalisir korupsi.
Selain itu, program pemberdayaan perempuan “Kudumbashree” menjadi motor penggerak ekonomi keluarga. Jutaan perempuan terorganisir dalam kelompok kecil yang menjalankan usaha kolektif, dari pertanian hingga keuangan mikro.
Sosialisme Demokratik sebagai Jalan Tengah
Apa yang terjadi di Kerala hari ini mungkin bukan lagi komunisme kaku ala abad ke-20 yang birokratis dan otoriter. Para analis politik melihatnya lebih sebagai bentuk “sosialisme demokratik” atau model negara kesejahteraan yang mirip dengan negara-negara Skandinavia.
Pemerintahan kiri di Kerala menunjukkan pragmatisme luar biasa. Mereka tidak anti terhadap investasi asing, selama itu menciptakan lapangan kerja dan keuntungannya digunakan untuk membiayai kebijakan pro-rakyat.
Sejarah partai komunis di India mungkin penuh dinamika perpecahan. Namun di Kerala, mereka membuktikan bahwa dengan beradaptasi pada sistem demokrasi, memprioritaskan data akurat, dan melibatkan partisipasi rakyat di akar rumput, cita-cita kesetaraan dan pengentasan kemiskinan dapat diwujudkan secara nyata.
Seperti yang dicatat oleh banyak pengamat, di Kerala, komunisme dengan “K” besar mungkin tinggal nama partai, namun komunisme dengan “k” kecil—semangat kesetaraan—terus hidup dan relevan. (Mun)
-
RIAU10/02/2026 19:30 WIBKasus Gajah Mati di Konsesi PT RAPP Estate Ukui, Begini Penjelasan Kapolres Pelalawan
-
FOTO10/02/2026 21:58 WIBFOTO: Istana Gelar Rapat Pimpinan TNI-POLRI
-
EKBIS10/02/2026 18:00 WIBDua Petinggi Dana Syariah Indonesia Ditahan Bareskrim Polri
-
POLITIK11/02/2026 06:00 WIBCak Imin Masih Berpeluang Jadi Cawapres Prabowo, Tapi…
-
OTOTEK10/02/2026 20:00 WIBTak Mau Kalah, Toyota Andalkan Koleksi Mobil Hybrid
-
NASIONAL10/02/2026 20:30 WIBUang 50 Ribu Dolar AS Disita KPK, Usai Geledah Kantor dan Rumdis Ketua PN Depok
-
POLITIK11/02/2026 09:00 WIBPengamat: Proposal Zulhas Cawapres Prabowo Bukan Harga Mati bagi PAN
-
DUNIA10/02/2026 19:00 WIBKunjungan Pemimpin Israel Diprotes Ribuan Warga Australia

















