Connect with us

EKBIS

Nilai Tukar Rupiah Naik Tipis, Ini Penyebabnya

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada awal perdagangan Senin, (16/2/2026). Di pasar spot, rupiah berada di level Rp16.833 per dolar AS atau naik 0,02 persen dibandingkan penutupan Jumat (13/2/2026) di posisi Rp16.836 per dolar AS.

Mengacu data Bloomberg, rupiah bahkan sempat menguat ke Rp16.827 per dolar AS atau naik sekitar 0,05 persen. Namun, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah tercatat di level Rp16.839 per dolar AS atau melemah tipis dibandingkan pembukaan di Rp16.835 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi setelah rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Inflasi Negeri Paman Sam tercatat naik 0,2 persen secara bulanan (month to month/MoM), lebih rendah dari proyeksi 0,3 persen. Secara tahunan (year on year/YoY), inflasi AS turun dari 2,7 persen menjadi 2,4 persen, di bawah estimasi pasar sebesar 2,5 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman, mengatakan pelemahan dolar AS dipicu data inflasi yang melandai.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Menurut Lukman, penurunan inflasi tersebut disebabkan oleh mulai meredanya dampak kebijakan tarif di AS. Data ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve System (The Fed). Penurunan imbal hasil obligasi AS pun membuat daya tarik dolar sedikit berkurang dalam jangka pendek.

Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan terbatas. Sejumlah sentimen domestik masih membayangi, mulai dari isu penurunan peringkat kredit, tuntutan peningkatan free float oleh MSCI, defisit anggaran, hingga prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak menguat. Dolar Taiwan memimpin kenaikan dengan 0,26 persen, diikuti peso Filipina 0,19 persen. Ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing naik 0,11 persen, won Korea Selatan 0,1 persen, dolar Singapura 0,03 persen, serta dolar Hong Kong 0,02 persen.

Sebaliknya, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah, turun 0,22 persen terhadap dolar AS.

Walau inflasi AS melandai, penguatan rupiah masih tertahan karena sebelumnya data tenaga kerja Non-Farm Payrolls (NFP) AS tercatat jauh lebih kuat dari perkiraan. Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. (Firmansyah/Mun)

TRENDING