EKBIS
Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah di Pasar Spot
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Kamis (12/2/2026) dengan pelemahan. Mata uang Garuda dibuka di kisaran Rp16.811–Rp16.818 per dolar AS, melemah sekitar 25–32 poin atau 0,15–0,19 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp16.786 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp16.818 per dolar AS, sementara di pasar spot rupiah sempat dibuka di level Rp16.804 per dolar AS. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai satu-satunya mata uang di Asia yang tertekan pada awal perdagangan hari ini.
Hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang mencatat penguatan terbesar dengan naik 0,26 persen, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,18 persen, serta dolar Taiwan dan yuan China yang masing-masing naik 0,17 persen dan 0,14 persen.
Penguatan juga tercatat pada baht Thailand sebesar 0,12 persen, ringgit Malaysia naik 0,10 persen, peso Filipina menguat 0,09 persen, dan dolar Singapura naik 0,05 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong menguat tipis 0,02 persen terhadap greenback.
Pelemahan rupiah hari ini sejalan dengan kembali menguatnya indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Tekanan terhadap rupiah didominasi oleh sentimen eksternal, terutama dari rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih solid.
Pelaku pasar merespons data klaim pengangguran AS yang tercatat lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut memperkuat persepsi bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh meski berada dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan (Fed Funds Rate). Alhasil, dolar AS kembali menguat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi dinamika global, terutama arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan indeks dolar AS. Pelaku pasar diimbau mencermati data ekonomi lanjutan dari AS serta perkembangan geopolitik global yang berpotensi memicu volatilitas nilai tukar. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL04/08/2026 16:00 WIBDPR: Jangan Percaya Isu Gaji ASN Dipotong Demi PPPK
-
DUNIA04/08/2026 12:00 WIBIran Tegaskan Tak Ada Dialog Baru dengan Amerika Serikat
-
POLITIK04/08/2026 14:03 WIBPuadi: Mahasiswa Kunci Pengawasan Pemilu di Era Digital
-
POLITIK04/08/2026 10:00 WIBBahlil Minta Kader Golkar Berubah atau Tertinggal di Pemilu 2029
-
NUSANTARA04/08/2026 12:30 WIBPadang-Pariaman-Agam Dikepung Air Satu Meter
-
DUNIA04/08/2026 15:00 WIBDarah Warga Gaza Terus Mengalir Bukti Kesepakatan BoP Cuma Macan Kertas
-
NUSANTARA04/08/2026 15:30 WIBPuluhan Guru dan Murid Tumbang Usai Santap MBG di Sebulu
-
NUSANTARA04/08/2026 23:00 WIBRatusan Dapur MBG Belum Kantongi Sertifikat Higiene

















