OASE
Al-Qur’an Perintahkan Rezeki Halalan Thayyiban
AKTUALITAS.ID – Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak sekadar mengejar rezeki, tetapi memastikan apa yang dikonsumsi dan diperoleh memenuhi prinsip halalan thayyiban – halal sekaligus baik.
Pesan tersebut salah satunya ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 168, yang menyerukan manusia mengonsumsi sesuatu yang halal dan baik serta tidak mengikuti jalan yang menjerumuskan.
Konsep halalan thayyiban bukan hanya berbicara mengenai status halal, tetapi juga menyangkut kualitas, kebersihan, keamanan, dan kebaikan dari sesuatu yang dikonsumsi.
Apa Arti Halal dan Thayyib?
Secara sederhana, halal berarti sesuatu yang diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan ketentuan agama.
Sementara thayyib mengandung makna baik, bersih, sehat, berkualitas, dan aman.
Dengan demikian, konsep halalan thayyiban menekankan dua sisi sekaligus: bagaimana sesuatu diperoleh dan bagaimana kualitas sesuatu tersebut.
Sesuatu yang halal tidak otomatis memenuhi seluruh aspek thayyib apabila cara memperoleh atau penggunaannya bertentangan dengan prinsip kebaikan.
Al-Qur’an Menyebut Halalan Thayyiban
Istilah halalan thayyiban disebut dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, antara lain Al-Baqarah ayat 168, Al-Ma’idah ayat 88, Al-Anfal ayat 69, dan An-Nahl ayat 114.
Dalam konteks ayat-ayat tersebut, pembahasan halalan thayyiban berkaitan dengan rezeki dan makanan yang dikonsumsi manusia.
Surat Al-Baqarah ayat 168 berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perintah mengonsumsi makanan tidak berhenti pada status halal. Ada pula tuntutan agar makanan tersebut merupakan sesuatu yang baik.
Tiga Pesan Penting tentang Rezeki
Dari prinsip halalan thayyiban, terdapat sejumlah pesan yang dapat menjadi perhatian.
Pertama, sumbernya harus halal.
Apa yang dikonsumsi maupun diperoleh harus berasal dari sesuatu yang dibenarkan dan tidak melanggar ketentuan agama.
Kedua, harus baik dan aman.
Konsep thayyib menekankan aspek kebaikan, kebersihan, kualitas, serta keamanan sesuatu yang dikonsumsi.
Ketiga, tidak boleh mengabaikan rasa syukur.
Dalam Surat An-Nahl ayat 114, manusia diperintahkan menikmati rezeki yang halal dan baik sekaligus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Pesan serupa juga terdapat dalam Surat Al-Ma’idah ayat 88, yang mengingatkan orang beriman untuk mengonsumsi rezeki yang halal dan baik serta bertakwa kepada Allah.
Halal Bukan Sekadar Label
Prinsip halalan thayyiban pada akhirnya mengajarkan bahwa makanan dan rezeki tidak cukup dinilai hanya dari satu sisi.
Kehalalan menyangkut status dan ketentuan agama, sedangkan thayyib menekankan kebaikan dan kemaslahatan.
Karena itu, pesan Al-Qur’an mengenai halalan thayyiban dapat dipahami sebagai ajakan agar manusia lebih berhati-hati dalam memilih apa yang dikonsumsi dan bagaimana rezeki diperoleh.
Intinya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia mencari sesuatu yang halal, tetapi juga memilih sesuatu yang baik, bersih, aman, dan membawa manfaat. (Mun)
-
RIAU26/09/2026 19:30 WIBPedang Pora Iringi Kepergian Brigjen Hengki Haryadi
-
POLITIK27/09/2026 06:00 WIBPSI: Urusan Pemilu Kok Nggak Kelar-Kelar
-
DUNIA26/09/2026 21:00 WIBPelabuhan Minyak Saudi Diserang Houthi, Prancis Langsung Kirim Pasukan Elit
-
NUSANTARA26/09/2026 22:00 WIBTanggul Jebol! Banjir Setinggi Pinggang Hantam Aceh Tenggara
-
JABODETABEK27/09/2026 05:30 WIBBMKG: Jakarta Berawan Seharian Minggu Ini
-
EKBIS26/09/2026 20:00 WIBStok Beras 4,6 Juta Ton, Amran Heran: Kenapa Harga Belum Turun?
-
NASIONAL26/09/2026 23:00 WIBTipu Investor Malaysia Rp58,5 Miliar, Kombes F Resmi Masuk ‘Kandang’ Propam
-
NASIONAL26/09/2026 17:00 WIBWaka DPR Desak Basarnas Cari Lagi 5 Jurnalis Arupadhatu 1

















