Connect with us

EKBIS

Rupiah Jebol Rp18.000

Aktualitas.id -

Ilustrasi, dok: aktualita.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Mata uang Garuda terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat ke posisi Rp18.054 atau naik 116 poin setara 0,65 persen. Sementara data perdagangan lainnya menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp18.064 per dolar AS pada pagi hari.

Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi sentimen negatif baik dari faktor global maupun domestik. Pada pembukaan perdagangan, rupiah sebenarnya berada di level Rp17.980 per dolar AS. Namun dalam hitungan menit, pelemahan semakin dalam hingga menyentuh area Rp18.000.

BACA JUGA  Senin Kelam! Rupiah Melemah Lagi ke Rp17.341

Data pasar spot juga menunjukkan rupiah melemah sekitar 100 poin atau 0,56 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.938 per dolar AS.

Salah satu sentimen yang membebani pergerakan rupiah adalah langkah MSCI yang memulai konsultasi terkait kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market.

Rencana perubahan klasifikasi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar karena berpotensi mendorong keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia. Jika terjadi, arus modal keluar dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan won Korea Selatan tercatat bergerak melemah.

BACA JUGA  Rupiah Menguat Usai Dolar AS Melemah

Di pasar global, dolar AS juga menunjukkan performa yang cukup kuat. Mata uang Negeri Paman Sam menguat terhadap yen Jepang, euro, yuan China, dan dolar Singapura.

Namun penguatan dolar tidak terjadi terhadap semua mata uang. Pound sterling Inggris dan dolar Australia masih mampu mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.

Penguatan indeks dolar global menunjukkan investor masih mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan yang lebih besar.

Penembusan level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian serius pasar karena merupakan salah satu level psikologis penting. Pelaku usaha, investor, hingga masyarakat kini mencermati langkah Bank Indonesia dan perkembangan pasar global guna melihat arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.

BACA JUGA  Jelang Libur Panjang, Rupiah Menguat Tipis ke Rp 16.810 per Dolar AS di Awal Perdagangan

Dengan tekanan yang masih tinggi dan sentimen pasar yang belum mereda, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap menjadi fokus utama pelaku ekonomi nasional pada akhir pekan ini. (Firman/Mun)

TRENDING