Berita
Akibat Gas Beracun, 80 Ton Ikan di Waduk Jatiluhur Purwakarta Mati
AKTUALITAS.ID – Ribuan ikan di Waduk Jatiluhur Kabupaten Purwakarta mati akibat gas beracun sisa pakan yang mengendap. Hasil peninjauan kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi karena minimnya tata kelola kerjasama antara pelaku budi daya dengan pengelola waduk. Tercatat, ikan yang mati di Waduk Jatiluhur mencapai 80,5 ton dari pendataan Minggu 31 Januari 2021. Menyikapi kejadian […]
AKTUALITAS.ID – Ribuan ikan di Waduk Jatiluhur Kabupaten Purwakarta mati akibat gas beracun sisa pakan yang mengendap. Hasil peninjauan kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi karena minimnya tata kelola kerjasama antara pelaku budi daya dengan pengelola waduk. Tercatat, ikan yang mati di Waduk Jatiluhur mencapai 80,5 ton dari pendataan Minggu 31 Januari 2021.
Menyikapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi menekankan perlu ada penataan dan pola penanaman ikan keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur. Hal ini menyusul matinya ribuan ikan yang mati di waduk itu. Dedi menyatakan tak ingin kejadian kematian ikan secara massal di Waduk Jatiluhur terus berulang.
Dedi berdiskusi dengan Direktur Perum Jasa Tirta 2 dan Menteri Kelautan dan Perikanan soal ini. Ia ingin ada penataan dan pengaturan pola tanam ikan keramba apung di Waduk Jatiluhur selayaknya menanam padi.
“Kaya penanaman padi lah, semua terkelola ada garis intruksinya, tidak jalan sendiri – sendiri, termasuk pencegahan penyakit,” ujar Dedi dalam keterangan persnya, Selasa (2/2/2021).
Dedi menyebut kematian massal ikan di Jatiluhur karena gas beracun sisa pakan yang mengendap di bawah waduk. Sisa pakan ikan berubah menjadi gas beracun. Saat curah hujan tinggi, arus air di bawah bergerak ke atas. “Setelah di atas, gas tersebut kemudian dihirup ikan. Ikannya mati,” ujar Dedi.
Dedi menyebut biasanya pemelihara ikan tak.memberi pakan saat hujan turun terus menerus. Sebab, jika perut ikan penuh, air dingin, dan jumlah oksigen dalam air sedikit berpotensi menyebabkan kematian massal ikan. Kematian ikan massal membuat petani keramba jaring apung rugi besar. “Karenanya seharusnya pada Januari, Februari, Maret, keramba ikan (di Jatiluhur) dikosongkan,” ungkapnya.
Dedi menilai, banyak petani keramba Waduk Jatiluhur yang sudah tahu perihal arus balik itu. Hanya saja beberapa di antara mereka berspekulasi memperoleh keuntungan lantaran harga ikan tengah tinggi. Bahkan Dedi menuturkan kasus tersebut mengakibatkan para pemilik keramba merugi sejak duduk sebagai Anggota DPRD Purwakarta. “Mereka kehabisan modal,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Purwakarta Ade Amin menambahkan, penyebab puluhan ikan di Waduk Jatiluhur mati karena cuaca hujan terus menerus selama beberapa hari dari pagi sampai sore. “Sehingga ikan kekurangan oksigen dan terjadi upweling. Itu yang menyebabkan kematian ikan,” katanya.
-
OLAHRAGA24/06/2026 04:30 WIBBrazil vs Skotlandia: Penentu Tiket Lolos Grup C Piala Dunia
-
JABODETABEK24/06/2026 05:30 WIBCuaca 24 Juni: Jakarta Tak Bisa Lepas dari Hujan Ringan
-
RAGAM24/06/2026 17:13 WIBDi Tengah Padatnya Aktivitas, Mashudi Benarto dan Elvi Cahyani Rayakan Dua Tahun Cinta dengan Makan Malam Romantis
-
EKBIS24/06/2026 11:30 WIBSelat Hormuz Lancar, Harga Minyak Dunia Turun
-
OLAHRAGA24/06/2026 07:15 WIB10 Kafe Seru Nobar Piala Dunia 2026 di Jakarta
-
OLAHRAGA24/06/2026 05:15 WIBKlasmen Grup H Piala Dunia 2026 Sangat Sengit dan Ketat
-
OLAHRAGA24/06/2026 06:15 WIBKlasmen Grup F Piala Dunia 2026 Buat Fans Berdebar
-
NASIONAL24/06/2026 17:48 WIBKPK Telusuri Setoran PT Blueray Cargo ke BPOM dan Kemendag