Connect with us

DUNIA

Isu Netanyahu Minta Bantuan Putin, Iran Justru Ancam Ratakan Israel dengan Tanah

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: akutalitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan militer yang sangat keras kepada Israel dan Amerika Serikat (AS).

Penasihat Senior IRGC, Brigadir Jenderal Morteza Ghorbani, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam level kesiapsiagaan tertinggi alias Siaga 1. Ia memperingatkan konsekuensi katastropik jika musuh melakukan kesalahan perhitungan.

“Mereka (pasukan kami) sudah siap. Jika serangan apapun terjadi, mereka akan meratakannya (Israel) dengan tanah,” tegas Ghorbani seperti dikutip dari Mehr News, Selasa (6/1/2026).

400 Unit Tempur Siap Tempur Ghorbani mengungkapkan bahwa sebanyak 400 unit dari unsur IRGC dan Angkatan Darat kini dalam status waspada tinggi. Seluruh pasukan, termasuk polisi, disebut telah meletakkan “tangan di pelatuk” dan siap melancarkan operasi balasan kapan saja.

“Dengan kebanggaan saya mengatakan bahwa Angkatan Darat, IRGC, dan polisi sangat siap. Level penangkalan saat ini adalah warisan dari jalan yang ditempuh martir Jenderal Qassem Soleimani,” tambahnya.

Senada dengan militer, Sekretariat Dewan Pertahanan Tertinggi Iran juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa keamanan dan integritas teritorial Iran adalah “garis merah” yang tak boleh dilanggar. Setiap agresi akan dibalas dengan respons yang tegas, proporsional, dan tanpa batasan.

Netanyahu Minta Bantuan Putin Di sisi lain, di tengah retorika perang yang meningkat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan manuver diplomatik via jalur belakang.

Melansir laporan Anadolu dan media Israel KAN, Netanyahu disebut meminta bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menjadi perantara pesan ke Teheran. Netanyahu ingin Putin meyakinkan Iran bahwa Israel tidak memiliki niat untuk melancarkan serangan.

Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran intelijen Tel Aviv bahwa Iran mungkin akan melakukan serangan pendahuluan (preemptive strike) akibat salah membaca pergerakan militer Israel.

“Netanyahu meminta Putin menyampaikan pesan ‘kepastian’ kepada Iran bahwa Israel tidak berencana menyerang,” tulis laporan KAN mengutip sumber diplomatik.

Namun, sikap ini bertolak belakang dengan pernyataan publik Netanyahu di hadapan parlemen (Knesset) pada Senin (5/1/2026). Di depan publik, ia justru mengancam bahwa Iran akan menghadapi “konsekuensi yang sangat parah” jika Israel diserang.

Kekhawatiran akan terjadinya miskalkulasi yang berujung perang besar kini menjadi topik utama dalam diskusi keamanan di kabinet Israel dalam beberapa pekan terakhir. (Mun)

TRENDING