EKBIS
Rupiah Melemah Senin (30/6), Optimisme AS-China Dorong Dolar AS
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penurunan pada hari pertama perdagangan minggu ini, Senin (30/6/2025). Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap kemajuan dalam negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang secara tidak langsung mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 19 poin atau 0,12%, hingga level Rp 16.213 per dolar AS. Turunnya rupiah ini terjadi meskipun indeks dolar dunia (DXY) terpantau turun 0,21 poin menjadi 93,19. Ini menunjukkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS relatif sejalan dengan penurunan dolar secara umum di pasaran global.
Memang, pada akhir pekan lalu, dolar AS terpuruk mendekati level terendah dalam hampir empat tahun terhadap euro, seiring dengan meningkatnya harapan pasar akan kesepakatan tarif antara AS dan Tiongkok. Optimisme ini mendorong spekulasi The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal.
Faktor ini diperkuat oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dalam testimoninya di Kongres AS pekan lalu. Powell memberikan sinyal pemangkasan suku bunga bisa terjadi jika inflasi tidak meningkat signifikan selama musim panas akibat tekanan dari tarif. Komentar ini dinilai pasar sebagai isyarat kebijakan yang lebih lembut (dovish). Sebagai akibatnya, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2025 melonjak menjadi 92,4%.
Meskipun demikian, pernyataan mengejutkan Presiden Donald Trump yang tiba-tiba menghentikan pembicaraan dagang dengan Kanada pada akhir pekan memberikan sentuhan waspada bagi pasar, meskipun sentimen positif secara keseluruhan masih mendominasi.
Tekanan tambahan terhadap dolar juga berasal dari kritik kembali Presiden Trump kepada Ketua The Fed Powell, serta dorongannya untuk paket pemotongan pajak dan stimulus fiskal besar-besaran. Pada sisi perdagangan global, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan kemajuan dalam negosiasi dagang dengan Tiongkok, khususnya terkait ekspor logam tanah jarang dan magnet. Ini menunjukkan bahwa tenggat 9 Juli yang ditetapkan Trump untuk mencapai kesepakatan atau memberlakukan tarif resiprokal mungkin lebih fleksibel.
Namun, perhatian pasar saat ini tetap terfokus pada rilis data lapangan kerja AS yang akan dirilis nanti hari ini. Data yang lemah kemungkinan besar akan memperparah tekanan penurunan pada dolar, sementara data yang kuat mungkin tidak cukup kuat untuk mendorong kenaikan signifikan.
Analisis dari Commonwealth Bank of Australia menilai perkembangan seputar kesepakatan dagang AS-China akan menjadi pendorong utama pergerakan dolar pekan ini. Meskipun mereka ragu banyak kesepakatan bisa diselesaikan segera, kemajuan parsial tetap dianggap positif untuk dolar terhadap beberapa mata uang, meskipun mungkin melemahkan dolar terhadap dolar Australia yang lebih sensitif terhadap sentimen risiko. Saat ini, AUD sedikit menguat ke US$ 0,6537. (Yan Kusuma/Mun)
-
RAGAM13/04/2026 13:30 WIBPenelitian Terbaru: Patahan Raksasa di Bawah Laut Sulawesi Sambungkan Sesar Benua
-
OTOTEK13/04/2026 16:30 WIB3.000 Flash Charge di Eropa Bakal Secepatnya Dipasang BYD
-
NASIONAL13/04/2026 06:00 WIBBGN Tutup Ratusan Dapur MBG karena Kualitas di Bawah Standar
-
NASIONAL13/04/2026 13:00 WIBBGN: EO Bantu Jalankan Program Gizi Nasional
-
POLITIK13/04/2026 10:00 WIBSurvei LSI: 94% Rakyat Tolak Pilkada Lewat DPRD
-
PAPUA TENGAH13/04/2026 16:00 WIBBerulah Lagi! OPM Kodap III/Puncak Pimpinan Lekagak Talenggen Bakar Rumah Warga
-
OASE13/04/2026 05:00 WIB5 Perkataan Umar yang Langsung Dijawab oleh Allah
-
POLITIK13/04/2026 11:00 WIBMantan Kepala PCO Sebut Pernyataan Saiful Mujani Dinilai Bahaya Demokrasi

















