EKBIS
Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Timur Tengah
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (9/4/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring tekanan eksternal global dan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona merah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis pagi, 9 April 2026. Berdasarkan data pasar uang, rupiah turun sekitar 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.030 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.012 per dolar AS.
Data Bloomberg L.P. menunjukkan bahwa pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, rupiah bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga Rp17.038 per dolar AS atau melemah 26 poin (0,15 persen).
Pergerakan rupiah ini terjadi di tengah fluktuasi nilai tukar di kawasan Asia. Mayoritas mata uang regional juga tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di Asia setelah melemah 0,39 persen. Disusul ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,22 persen serta won Korea Selatan yang turun 0,21 persen.
Selain itu, yen Jepang juga terdepresiasi 0,16 persen dan baht Thailand melemah 0,12 persen. Dolar Taiwan serta dolar Singapura masing-masing turun 0,07 persen, sementara yuan China melemah tipis 0,04 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya tekanan eksternal, terutama terkait ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, meningkatnya ketidakpastian global membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp17.020 hingga Rp17.080 per dolar AS dipengaruhi meningkatnya tekanan eksternal setelah klaim Iran terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata,” ujar Rully.
Analisis dari Doo Financial Futures juga menunjukkan rupiah sebelumnya sempat ditutup melemah terhadap dolar AS sebesar 70 poin atau 0,41 persen menuju level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, ketidakpastian arah konflik global membuat investor terbelah antara optimisme perdamaian dan kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
“Pasar saat ini terpecah. Ada yang optimistis konflik mereda, tetapi ada juga yang bersiap menghadapi skenario terburuk,” katanya.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia juga dinilai memberi tekanan tambahan terhadap rupiah. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban fiskal pemerintah, terutama jika harga bahan bakar minyak (BBM) domestik belum mengalami penyesuaian.
Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global, termasuk dinamika konflik di Timur Tengah serta potensi langkah kebijakan dari Amerika Serikat.
Di sisi domestik, pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang menjadi indikator penting untuk mengukur ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Sementara itu, berdasarkan data TradingView, indeks dolar AS saat ini berada di kisaran level 99, mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati di tengah situasi geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil. (Firmansyah/Mun)
-
RIAU30/08/2026 18:30 WIBPisah Haru Mahasiswa KKN UIN Suska Riau di Desa Muntai Barat
-
DUNIA30/08/2026 18:00 WIBNepal Minta Meta dan TikTok Hapus Konten AI Banjir
-
NASIONAL30/08/2026 19:00 WIBKPK Bongkar Dugaan Korupsi di Dinas Pendidikan
-
NASIONAL30/08/2026 23:00 WIBKPK: RUU Perampasan Aset Harus Segera Disahkan
-
DUNIA30/08/2026 21:00 WIB27 Orang Tewas dalam Tragedi Ledakan Usai Serangan Drone Rusia
-
OASE31/08/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Mengatur Hidup dari Akidah hingga Politik
-
NUSANTARA31/08/2026 11:45 WIBSinabung Erupsi, Abu Hitam Membumbung 3,5 Kilometer
-
JABODETABEK31/08/2026 07:00 WIBMisteri Kematian Bambang, Elite Politik Bungkam