Connect with us

OASE

Kisah Siti Masyitoh dan Wangi Harum yang Menggetarkan Isra Mi’raj

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - meta ai

AKTUALITAS.ID – Ada sebuah kisah yang terus dikenang umat Islam tentang keteguhan iman seorang perempuan salehah di tengah kekuasaan yang zalim. Namanya Siti Masyitoh, seorang pelayan istana pada masa Firaun yang memilih mempertahankan keyakinannya kepada Allah SWT meski harus menghadapi ujian yang amat berat.

Dalam riwayat yang dikisahkan dari Ibnu Abbas, cerita tentang Siti Masyitoh bahkan dikaitkan dengan perjalanan agung Rasulullah SAW saat Isra Mi’raj.

Ketika itu, Rasulullah SAW disebut mencium aroma yang sangat harum. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada Malaikat Jibril mengenai asal wangi tersebut.

Jibril pun menjelaskan bahwa aroma itu berasal dari Siti Masyitoh dan anak-anaknya, sosok yang dikenang karena keteguhan memegang keimanan kepada Allah SWT.

Pelayan Istana yang Menyimpan Rahasia Keimanan

Siti Masyitoh hidup pada masa Firaun, penguasa yang dalam kisah keagamaan dikenal karena kekejamannya dan pengakuannya sebagai sosok yang harus dipatuhi sebagai tuhan.

Di tengah lingkungan istana yang penuh tekanan, ternyata ada sejumlah orang yang diam-diam beriman kepada Allah SWT dan mengikuti ajaran Nabi Musa AS.

Siti Masyitoh termasuk di antara mereka.

Ia dikenal sebagai perempuan yang bertugas mengurus anak-anak Firaun. Dalam berbagai penuturan kisah, keimanannya selama bertahun-tahun disembunyikan agar tidak diketahui sang penguasa.

Namun, rahasia yang disimpan rapat itu akhirnya terbongkar karena sebuah peristiwa sederhana.

Sebuah Sisir Terjatuh, Rahasia Besar Terbongkar

Saat sedang menjalankan tugasnya menyisir rambut putri Firaun, sisir yang dipegang Siti Masyitoh tiba-tiba terjatuh.

Ketika mengambil kembali sisir itu, ia secara spontan mengucapkan, “Bismillah.”

Ucapan tersebut justru membuat anak Firaun bertanya.

Siti Masyitoh kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah Firaun, melainkan Allah SWT sebagai Tuhan yang ia sembah.

“Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah.”

Jawaban itu menjadi titik balik bagi kehidupan Siti Masyitoh.

Ucapan yang keluar dari lisannya secara spontan ternyata membuka identitas dan keyakinan yang selama ini ia sembunyikan. Anak Firaun kemudian mengancam akan melaporkan hal tersebut kepada ayahnya.

Namun Siti Masyitoh tidak menarik kembali keyakinannya.

Firaun Murka, Siti Masyitoh Tetap Teguh

Ketika kabar itu sampai kepada Firaun, sang penguasa disebut murka. Siti Masyitoh dipanggil dan ditanya mengenai Tuhan yang ia sembah.

Di hadapan kekuasaan yang bisa menentukan hidup dan matinya, Siti Masyitoh disebut tetap menyatakan keyakinannya.

Ia memilih tidak menyangkal keimanannya kepada Allah SWT.

Dalam kisah yang beredar dalam tradisi Islam, Siti Masyitoh kemudian dihadapkan pada ancaman berat. Ia diminta meninggalkan keyakinannya dan tunduk kepada kehendak Firaun.

Namun, tekanan dan ancaman tidak mampu mengubah pendiriannya.

Kisah ini menjadi salah satu gambaran tentang betapa mahalnya harga sebuah keyakinan ketika seseorang hidup di bawah kekuasaan yang menolak kebenaran.

Saat Sang Ibu Mendapat Kekuatan dari Anaknya

Riwayat tentang Siti Masyitoh juga mengisahkan momen yang sangat mengharukan ketika ia menghadapi ujian bersama anak-anaknya.

Dalam salah satu riwayat, bayi yang berada dalam pelukannya disebut diberi kemampuan untuk berbicara dan menguatkan sang ibu agar tetap teguh.

Pesan yang disampaikan dalam riwayat tersebut pada intinya menguatkan Siti Masyitoh untuk bersabar dan tidak meninggalkan jalan yang diyakininya benar.

Kekuatan itulah yang membuat keraguan Siti Masyitoh hilang.

Ia memilih menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan tetap istiqamah pada keyakinannya.

Aroma Harum yang Dikenang dalam Perjalanan Isra Mi’raj

Kisah Siti Masyitoh kemudian dikenang sebagai salah satu cerita tentang keberanian, kesabaran, dan keteguhan iman.

Dalam riwayat yang dikaitkan dengan perjalanan Isra Mi’raj, aroma harum yang dicium Rasulullah SAW menjadi simbol kemuliaan bagi perempuan salehah yang tidak menjadikan ancaman sebagai alasan untuk meninggalkan keyakinannya.

Jibril disebut menjelaskan kepada Rasulullah SAW bahwa aroma tersebut berkaitan dengan Siti Masyitoh dan anak-anaknya.

Kisah ini menyisakan pesan yang kuat: kekuasaan dapat membuat seseorang takut, tetapi keyakinan yang tertanam dalam hati tidak selalu bisa ditundukkan oleh ancaman.

Siti Masyitoh bukan seorang ratu dan bukan pula penguasa. Ia hanyalah seorang perempuan yang bekerja di lingkungan istana.

Namun dalam kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, namanya justru dikenang karena satu hal yang tidak bisa diberikan oleh kekuasaan: keteguhan memegang iman dan keyakinan.

Di tengah kemewahan istana Firaun dan besarnya ancaman yang dihadapinya, Siti Masyitoh memilih tetap berpihak pada apa yang diyakininya benar.

Dari sebuah ucapan “Bismillah”, rahasianya terbongkar. Namun dari keteguhan hatinya pula, nama Siti Masyitoh terus dikenang sebagai simbol keberanian dan istiqamah dalam mempertahankan keimanan. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version