Connect with us

RAGAM

Soekarno Temui Tan Malaka dalam Gelap

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Di tengah euforia kemerdekaan Indonesia, sebuah pertemuan rahasia berlangsung dalam gelap pada malam Lebaran, September 1945. Dua tokoh besar revolusi Indonesia, Soekarno dan Tan Malaka, diam-diam bertemu di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya 128, Jakarta.

Tak ada lampu menyala. Tak banyak orang mengetahui siapa tamu yang datang malam itu.

Bahkan dokter pribadi Soekarno, dr. R. Soeharto, yang menjadi tuan rumah sempat tidak mengetahui identitas sebenarnya sang tamu misterius.

Dalam memoarnya, Saksi Sejarah, dr. Soeharto mengenang bahwa tamu tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama samaran Abdulrajak dari Kalimantan.

Baru beberapa bulan kemudian identitas itu terungkap.

Tamu misterius tersebut ternyata Tan Malaka, salah satu tokoh revolusioner paling berpengaruh dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Pertemuan dalam Gelap

Sehari sebelum pertemuan, Soekarno meminta dr. Soeharto menyiapkan sebuah kamar di rumahnya.

Namun, Soekarno tidak memberi tahu siapa yang akan datang.

Pada malam Lebaran, 9 September 1945, Soekarno tiba bersama ajudannya, Mantoyo. Tak lama kemudian, tamu misterius datang dengan ditemani Sayuti Melik.

Dr. Soeharto kemudian mengantar keduanya menuju kamar yang telah dipersiapkan.

Pertemuan berlangsung dalam kondisi gelap. Lampu sengaja dipadamkan untuk menghindari perhatian dan kemungkinan pengawasan pihak Jepang.

Dalam suasana penuh kerahasiaan itulah Soekarno akhirnya bertatap muka dengan tokoh yang selama bertahun-tahun dikaguminya.

Soekarno Terinspirasi Pemikiran Tan Malaka

Kekaguman Soekarno terhadap Tan Malaka bukan tanpa alasan.

Soekarno telah membaca karya-karya Tan Malaka, termasuk Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie.

Pemikiran Tan mengenai revolusi, imperialisme, dan masa depan Indonesia ikut memengaruhi perkembangan pemikiran politik Soekarno.

Karena itu, pertemuan September 1945 bukan sekadar pertemuan dua tokoh pergerakan.

Di tengah Republik yang baru saja diproklamasikan, keduanya sedang menghadapi pertanyaan besar: siapa yang akan meneruskan revolusi jika Soekarno dan Mohammad Hatta ditangkap?

Muncul Gagasan Testamen Politik

Dalam rangkaian pertemuan rahasia setelahnya, Soekarno disebut kembali membicarakan kemungkinan keberlanjutan kepemimpinan revolusi.

Ancaman penangkapan terhadap Soekarno-Hatta menjadi kekhawatiran serius setelah pasukan Sekutu dan NICA mulai masuk ke Indonesia.

Dalam situasi tersebut, muncul gagasan mengenai sebuah testamen politik, semacam surat wasiat yang mengatur siapa yang akan meneruskan kepemimpinan revolusi jika Soekarno-Hatta tidak lagi dapat menjalankan pemerintahan.

Nama Tan Malaka menjadi salah satu tokoh utama dalam pembicaraan tersebut.

Pada 30 September 1945, Soekarno kembali bertemu Tan Malaka, Iwa Kusumasumantri, dan Gatot Tarunamihardja di rumah Ahmad Soebardjo.

Dalam pertemuan itu, gagasan menunjuk Tan Malaka sebagai penerus kepemimpinan revolusi kembali dibahas.

Namun, Mohammad Hatta memiliki pandangan berbeda.

Hatta tidak menghendaki kekuasaan penerus diberikan hanya kepada satu orang. Dari sinilah kemudian muncul formula empat tokoh yang akan meneruskan kepemimpinan revolusi.

Nama yang akhirnya masuk adalah Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro.

Testamen tersebut kemudian ditandatangani Soekarno-Hatta pada 1 Oktober 1945.

Tapi Sejarah Berbelok Tajam

Ironisnya, testamen politik tersebut tidak pernah benar-benar diwujudkan.

Hubungan politik antara Tan Malaka dengan pemerintahan Soekarno-Hatta justru semakin memburuk.

Tan Malaka menghendaki perjuangan kemerdekaan dilakukan secara tegas dan menolak kompromi yang dinilainya dapat mengorbankan cita-cita kemerdekaan sepenuhnya.

Sementara pemerintahan Soekarno-Hatta mengambil jalur diplomasi dan negosiasi dalam menghadapi Belanda dan Sekutu.

Perbedaan strategi itu semakin tajam pada 1946.

Tan Malaka kemudian mengorganisasi Persatuan Perjuangan, sebuah front politik yang menghimpun berbagai organisasi dan kelompok perjuangan.

Front tersebut berseberangan dengan pemerintahan yang dijalankan melalui Kabinet Sjahrir.

Konflik politik pun meningkat. Tan Malaka dan sejumlah tokoh Persatuan Perjuangan ditangkap pada Maret 1946. Beberapa bulan kemudian terjadi penculikan terhadap Sjahrir dan berujung pada krisis politik serta percobaan kudeta pada Juli 1946.

Dari Kandidat Penerus Revolusi hingga Gugur

Kisah Tan Malaka kemudian berakhir tragis.

Tokoh yang pernah dipertimbangkan sebagai salah satu penerus kepemimpinan revolusi itu justru meninggal dalam kondisi penuh kontroversi.

Tan Malaka dieksekusi oleh prajurit Republik Indonesia di Selopanggung, Kediri, pada 21 Februari 1949.

Ironi sejarah pun menjadi semakin tajam.

Seorang tokoh yang pernah dipandang Soekarno sebagai sosok penting bagi kelangsungan revolusi akhirnya tewas di tangan sesama pejuang republik.

Pertemuan rahasia di rumah dr. Soeharto pada malam Lebaran 1945 pun akhirnya menjadi salah satu episode paling misterius dalam sejarah awal Republik.

Dari kamar gelap di Jalan Kramat Raya, lahir pembicaraan tentang masa depan revolusi. Namun, sejarah kemudian membawa Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka ke jalan politik yang berbeda. (Mun)

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version