EKBIS
Bahlil Ungkap Penyebab Stok Pertalite Menyusut
AKTUALITAS.ID – Penurunan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite belakangan menjadi sorotan publik. Cadangan Pertalite yang sebelumnya berada di atas 20 hari kini menyusut menjadi sekitar 16 hingga 18 hari.
Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan pasokan, melainkan lonjakan konsumsi masyarakat yang beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan penurunan stok terjadi akibat perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih banyak memilih Pertalite dibandingkan BBM dengan nilai oktan lebih tinggi.
“Secara stok nasional kita, BBM itu di 16-18 hari. Yang terjadi pergeseran dari 16-18 hari itu adalah RON 90 atau Pertalite,” ujar Bahlil.
Menurutnya, perbedaan harga yang cukup lebar antara Pertalite dan Pertamax menjadi pemicu utama perpindahan konsumen. Banyak pengguna Pertamax kini memilih menggunakan Pertalite untuk menekan pengeluaran bahan bakar.
Akibat fenomena tersebut, konsumsi Pertalite melonjak signifikan dalam beberapa bulan terakhir dan berdampak langsung terhadap tingkat cadangan nasional.
Meski demikian, Bahlil menegaskan stok Pertalite yang berada di kisaran 16 hingga 18 hari masih berada dalam batas aman dan tidak menunjukkan adanya kondisi darurat pasokan.
“Pencapaian stok di atas 20 hari itu membutuhkan waktu sekitar satu minggu lagi. Tapi di angka 16-18 hari bukan berarti kita kekurangan standar minimal,” katanya.
Saat ini pemerintah bersama Pertamina masih menjalankan proses pencampuran atau blending di kilang untuk menambah pasokan Pertalite dan mengembalikan tingkat stok ke posisi normal.
Sementara itu, data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan lonjakan konsumsi Pertalite mulai terlihat setelah harga Pertamax mengalami kenaikan pada Juni 2026.
Sebelum kenaikan harga Pertamax, rata-rata penyaluran Pertalite tercatat sekitar 75.795 kiloliter per hari.
Setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, konsumsi Pertalite langsung meningkat menjadi 82.760 kiloliter per hari atau naik sekitar 9,19 persen.
Tren kenaikan tersebut terus berlanjut pada Juli 2026. Penyaluran Pertalite mencapai rata-rata 85.589 kiloliter per hari atau melonjak 12,92 persen dibandingkan periode sebelum kenaikan harga Pertamax.
Meski sempat turun sedikit pada Agustus 2026 menjadi 84.368 kiloliter per hari, angka tersebut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi sebelum harga Pertamax naik.
Di sisi lain, Bahlil memastikan stok BBM lainnya tetap dalam kondisi aman. Produk seperti Biosolar, Pertamax RON 92, Pertamax Green RON 95, dan Pertamax Turbo RON 98 tidak mengalami tekanan konsumsi seperti yang terjadi pada Pertalite.
Fenomena perpindahan pengguna dari BBM nonsubsidi ke Pertalite ini menjadi sinyal kuat bahwa faktor harga masih menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih bahan bakar kendaraan.
Jika tren tersebut terus berlanjut, pemerintah diperkirakan perlu melakukan penyesuaian pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas distribusi BBM nasional. (Firman/Mun)
-
OTOTEK17/10/2026 20:00 WIBGoogle Wanti-Wanti Peretas Bisa Kuasai Komputer dari Jarak Jauh
-
DUNIA17/10/2026 21:00 WIBTerkuak! AS Siapkan Emak dari Segala Bom untuk Hantam Iran
-
JABODETABEK17/10/2026 22:00 WIBNiat Numpang Tidur, Bocah 11 Tahun di Depok Malah Disodomi
-
NASIONAL18/10/2026 06:00 WIBAsap Karhutla Meluas, Eddy Soeparno Dorong AI untuk Memburu Titik Api
-
NASIONAL17/10/2026 19:00 WIBKemenkum Mulai Godok Putusan MK soal Revisi UU Peradilan Militer
-
NASIONAL17/10/2026 17:00 WIBKomisi IV DPR Soroti Karhutla yang Menewaskan Empat Petugas di Bromo
-
JABODETABEK18/10/2026 05:30 WIBBMKG: 6 Wilayah Jakarta Cerah Membara Minggu Ini
-
NUSANTARA17/10/2026 23:00 WIBBMKG Buka Suara Soal Cuaca Panas Ekstrem di Jawa

















