Connect with us

NASIONAL

JARI Kumpulkan Pakar dan Mahasiswa, Bahas Masa Depan Konstitusi Indonesia

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Organisasi Masyarakat Jaga Republik Indonesia (JARI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Meneguhkan Konstitusi Menuju Kemajuan Bangsa, Telaah Terhadap Stabilitas Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, pada Sabtu (25/7/2026). Forum tersebut membahas persoalan ketatanegaraan, demokrasi, ekonomi, komunikasi, dan geopolitik yang dinilai berkaitan dengan stabilitas nasional.

Sekitar 300 peserta mengikuti seminar tersebut. Sejumlah akademisi, pakar, mahasiswa, tokoh nasional, dan peserta umum hadir untuk mendiskusikan arah kehidupan bernegara serta berbagai persoalan yang muncul setelah perubahan UUD 1945.

Sekretaris Jenderal JARI Andrianto Andri membuka kegiatan dengan mengkritik sistem ketatanegaraan setelah perubahan UUD 1945. Eksponen Angkatan Reformasi 1998 itu berpandangan terdapat sejumlah persoalan dalam sistem politik dan konstitusi yang perlu dikaji kembali.

“Kita harus jujur, konstitusi 2002 ini sudah tidak relevan dengan kondisi Indonesia dan membuat biaya politik menjadi sangat mahal. Kami sangat optimis, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo nanti, bangsa ini akan menuju arah yang jauh lebih baik manakala beliau berani menegakkan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,” kata Andrianto dikutip, Minggu (26/7/2026).

Andrianto menjelaskan seminar digelar sebagai forum akademik untuk membedah persoalan ketatanegaraan. Diskusi tersebut sekaligus diarahkan untuk menghasilkan masukan mengenai sistem bernegara di masa mendatang.

Pakar pertahanan nasional Selamat Ginting kemudian menyoroti proses perubahan konstitusi pada periode 1999-2002. Ia mengaitkan sistem pemilihan presiden secara langsung dengan meningkatnya biaya politik dan polarisasi masyarakat.

“Dunia menertawakan Indonesia. Kita melakukan amandemen konstitusi setiap tahun dari 1999 hingga 2002. Ini membuktikan negara main-main dan patut diduga ada titipan asing di baliknya,” terang Selamat.

Selamat juga mengkritik kondisi penegakan hukum. Ia menyebut persoalan tersebut perlu menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas nasional.

Dari sektor ekonomi, pakar ekonomi Anthony Budiawan menyoroti kebijakan yang dinilainya lebih menguntungkan kelompok tertentu. UU Cipta Kerja dan Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi salah satu kebijakan yang disorot dalam forum tersebut.

“Pemerintahan tirani adalah pemerintahan yang membentuk UU semata-mata demi kepentingan kekuasaannya. Lihat UU Cipta Kerja dan Proyek Strategis Nasional (PSN),” tegas Anthony.

Sementara itu, Rektor UPN Veteran Jakarta Profesor Anter Venus membahas ancaman terhadap stabilitas nasional dari sisi komunikasi. Ia mengingatkan perkembangan media sosial dapat digunakan untuk memengaruhi persepsi masyarakat.

“Senjata musuh saat ini menargetkan ‘isi kepala’ bangsa kita. Di era media sosial, pikiran rakyat dibajak dan dimanipulasi di dalam ruang gema (echo chamber) sehingga masyarakat terpolarisasi,” jelas Anter.

Pakar geopolitik Rizal Darmaputra menekankan pentingnya kepentingan nasional dalam kebijakan luar negeri dan pengelolaan sumber daya alam. Ia juga mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengakomodasi kepentingan asing.

“Kita punya kepentingan nasional dan kekayaan alam yang harus dilindungi secara mutlak! Stabilitas tidak akan tercapai jika aparaturnya tidak bersih dan hukumnya tidak tegak,” terang Rizal.

Peserta seminar terdiri atas sekitar 200 mahasiswa dan 100 peserta umum. Mahasiswa berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Jabodetabek, termasuk Universitas Nasional, Universitas Trisakti, UPN Veteran Jakarta, Universitas Al Azhar, Universitas Bung Karno, Universitas Jayabaya, dan sejumlah kampus lainnya.

Sejumlah tokoh nasional turut menghadiri acara tersebut, di antaranya mantan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Adhie Massardi, Ketua Umum DPP KNPI Sedunia Taufik Lubis, Hatta Taliwang, Akbar Z, Bunda Wati, serta Dewi Herawati.

Kegiatan ditutup dengan pemberian plakat penghargaan kepada para narasumber. JARI juga menyerahkan sertifikat partisipasi kepada peserta seminar nasional.

TRENDING

Exit mobile version