Connect with us

NUSANTARA

Nelayan Pangandaran Desak Ganti Rugi akibat Tumpahan Batu Bara Tongkang Nautica 22

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran meminta pemerintah dan pihak terkait memberikan kompensasi kepada nelayan serta kelompok konservasi yang terdampak tumpahan batu bara dari Tongkang Nautica 22 di kawasan Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran.

Permintaan itu disampaikan Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiriadinata dalam rapat penanganan dampak tumpahan batu bara bersama pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan di Gedung DPRD Pangandaran, Senin (22/6/2026).

Jeje menilai pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang yang dapat mengganggu ekosistem pesisir dan aktivitas ekonomi masyarakat nelayan.

“Saya yakin pemulihan lingkungannya akan lama. Kalau kami punya konservasi di situ, mohon ada gantinya. Bapak harus membuat kompensasi kepada kami,” kata Jeje.

Dirinya mengusulkan bentuk kompensasi berupa pemulihan lingkungan dan penanaman mangrove di wilayah terdampak guna menjaga keberlanjutan kawasan pesisir.

Hal tersebut, kata Jeje diperlukan perhatian serius karena masih terdapat kekhawatiran terkait kandungan logam berat yang mungkin mencemari perairan.

“Kenapa semua turun? Karena ada kekhawatiran pencemaran arsenik dan merkuri. Itu yang berbahaya,” ujarnya.

HNSI juga meminta pemerintah segera mengeluarkan imbauan sementara kepada nelayan untuk tidak menangkap ikan di sekitar lokasi hingga hasil pemeriksaan lingkungan selesai dilakukan.

“Saya mohon ada imbauan dari pemerintah jangan ambil ikan dulu di sebelah sana,” kata Jeje.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan mayoritas nelayan Pangandaran merupakan nelayan harian yang beroperasi dalam radius dua hingga tiga mil dari garis pantai. Kondisi itu membuat mereka menjadi kelompok yang paling rentan apabila terjadi pencemaran di wilayah pesisir.

Selain menuntut kompensasi, HNSI mendesak percepatan pembersihan material batu bara agar tidak semakin meluas ke kawasan perairan lain.

Jeje mengaku kecewa karena penanganan awal dinilai belum cukup cepat untuk mengendalikan dampak lingkungan yang muncul setelah insiden tersebut.

“Saya tunggu tujuh hari untuk melakukan langkah langkah. Saya kecewa karena belum ada tindakan cepat dan tepat,” ujarnya. (Ari)

TRENDING

Exit mobile version