Connect with us

OASE

Fakta I’tikaf: Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Ibrahim AS

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – I’tikaf merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki akar sejarah panjang. Secara bahasa, i’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti menetap atau berdiam diri. Dalam syariat Islam, i’tikaf diartikan sebagai berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa.

Ibadah ini sangat dianjurkan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih malam Lailatul Qadar.

Akar Sejarah I’tikaf Sejak Zaman Nabi Ibrahim AS

I’tikaf bukan hanya ajaran dalam Islam, tetapi juga termasuk bagian dari Syar’u man qablana atau syariat umat terdahulu. Praktiknya telah ada sejak masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 125 disebutkan perintah Allah untuk membersihkan Ka’bah bagi orang-orang yang thawaf, i’tikaf, rukuk, dan sujud. Ayat ini menjadi dalil bahwa ibadah i’tikaf sudah dikenal sejak zaman para nabi terdahulu sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.

Awal Mula I’tikaf Rasulullah SAW

Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW telah terbiasa berkhalwat atau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira. Setelah turunnya wahyu, kebiasaan tersebut berlanjut dalam bentuk i’tikaf di masjid.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para istri beliau.

Waktu Pelaksanaan I’tikaf Menurut Hadis

Rasulullah SAW rutin beritikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Namun dalam beberapa riwayat disebutkan:

Pernah i’tikaf pada 10 hari pertama Ramadhan

Pernah i’tikaf pada 10 hari pertengahan Ramadhan

Pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama 20 hari

Perubahan waktu ini berkaitan dengan pencarian malam Lailatul Qadar. Dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah awalnya mencari Lailatul Qadar di awal Ramadhan, kemudian mendapat petunjuk bahwa malam tersebut berada pada 10 malam terakhir.

Sejak itu, i’tikaf pada 10 malam terakhir menjadi sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan.

Tujuan dan Ketentuan I’tikaf

Tujuan utama i’tikaf adalah meningkatkan kualitas ibadah dan fokus bermunajat kepada Allah SWT. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 ditegaskan bahwa orang yang beritikaf di masjid tidak diperbolehkan mencampuri istrinya.

Artinya, i’tikaf menuntut seseorang untuk:

Berdiam diri di dalam masjid

Memperbanyak ibadah dan dzikir

Menjauhi kesibukan duniawi

Mengurangi interaksi yang tidak perlu

I’tikaf sering diibaratkan sebagai “mengencangkan ikat pinggang”, yaitu kesungguhan dalam beribadah pada penghujung Ramadhan.

I’tikaf Bisa Dilakukan Kapan Saja

Menurut para ulama, i’tikaf tidak terbatas pada bulan Ramadhan saja. I’tikaf dapat dilakukan kapan saja selama memenuhi syarat dan niatnya benar. Namun, keutamaan terbesar tetap berada pada 10 hari terakhir Ramadhan karena bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

I’tikaf adalah ibadah dengan sejarah panjang sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah secara konsisten melaksanakan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan hingga wafatnya, menjadikannya sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan.

Melalui i’tikaf, umat Islam diajak untuk fokus beribadah, memperbanyak dzikir dan doa, serta mencari keberkahan Lailatul Qadar di penghujung bulan suci Ramadhan. (Mun)

TRENDING