POLITIK
Tidar Gerindra Tolak Budi Arie, Pengamat Ungkap 3 Motif: Isu Judi Online hingga Pion Politik 2029
AKTUALITAS.ID – Rencana Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, untuk bergabung ke Partai Gerindra mendapat penolakan dari organisasi sayap muda partai tersebut, Tunas Indonesia Raya (Tidar).
Penolakan itu dinilai sebagai langkah yang logis dan strategis untuk menjaga idealisme serta soliditas internal Gerindra di tengah dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai Tidar memiliki dasar kuat menolak kehadiran Budi Arie di tubuh Gerindra.
“Tidar ingin menjaga dan mempertahankan idealisme Gerindra. Karena itu, mereka tidak ingin orang-orang oportunis seperti Budi Arie masuk begitu saja ke partai,” ujar Jamiluddin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/11/2025).
Menurutnya, kekhawatiran utama Tidar adalah munculnya potensi gangguan terhadap kohesivitas dan kekompakan kader apabila figur yang dinilai oportunis diterima begitu saja.
“Orang oportunis bisa merusak soliditas internal partai. Jadi, wajar jika Tidar menolak kehadiran Budi Arie demi menjaga keutuhan partai,” tambahnya.
Lebih jauh, Jamiluddin mengungkapkan bahwa Tidar kemungkinan telah membaca motif politik di balik keinginan Budi Arie untuk berlabuh ke Gerindra. Ia menyebut setidaknya ada tiga kemungkinan motif di balik langkah tersebut.
Pertama, Budi Arie diduga ingin mencari perlindungan politik, terutama setelah sempat dikaitkan dengan isu judi online.
“Kalau rumor itu benar, mungkin dia berharap aman jika berada di partai berkuasa. Tapi itu keliru, karena Prabowo tidak akan melindungi kader yang bermasalah hukum,” tegasnya.
Kedua, lanjut Jamiluddin, bisa jadi keinginan Budi Arie bergabung ke Gerindra merupakan bagian dari strategi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Ada kemungkinan Jokowi mengirim Budi Arie untuk memperkuat posisi Prabowo–Gibran menjelang Pilpres 2029. Dalam hal ini, dia hanya menjadi pion politik, bukan atas inisiatif pribadi,” jelasnya.
Karena itu, Tidar dinilai tidak ingin Gerindra dimanfaatkan untuk kepentingan politik pihak lain.
“Mereka tentu tidak mau partainya dijadikan alat politik bagi pihak luar, termasuk Jokowi,” imbuhnya.
Motif ketiga, menurut Jamiluddin, adalah kepentingan pribadi Budi Arie untuk menjaga karier politiknya setelah tidak lagi menjabat di pemerintahan.
“Sebagai mantan menteri, tentu wajar jika ia ingin tetap eksis di lingkar kekuasaan. Namun, manuver seperti ini bisa membawa risiko bagi citra Gerindra,” ujarnya.
Jamiluddin menilai langkah Tidar menolak Budi Arie merupakan tindakan rasional dan idealis di tengah situasi politik yang sarat kepentingan.
“Lebih baik menolak sejak awal daripada menanggung risiko politik yang dapat merusak citra partai,” pungkasnya. (Wibowo/Mun)
-
NUSANTARA23/08/2026 10:00 WIBKarhutla Sumsel Tembus 1.926 Ha
-
NASIONAL23/08/2026 06:00 WIBBukan Kaleng-kaleng, Ariawan Sabet Gelar Tokoh Muda Jurnalistik Kreatif
-
DUNIA23/08/2026 08:00 WIB16 Nyawa Melayang dalam Serangan Drone Rusia
-
NASIONAL23/08/2026 07:00 WIBKPK Dalami Dugaan Korupsi Proyek Pemkab Bogor
-
NASIONAL23/08/2026 09:00 WIBWamenaker: Aktivis Kunci Indonesia Lebih Baik
-
OASE23/08/2026 05:00 WIB
Allah Menjawab Setiap Ayat Al-Fatihah
-
NASIONAL23/08/2026 11:00 WIBMenteri LH Bongkar 335 Perusahaan Nakal
-
NASIONAL23/08/2026 17:00 WIBPemerintah Gelontorkan Rp1,2 Triliun untuk Pangan Bencana