Connect with us

JABODETABEK

Sudjatmiko Desak Standar Keselamatan Kapal Harus Diperketat

Aktualitas.id -

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Sudjatmiko,

AKTUALITAS.ID – Rapor merah keselamatan pelayaran Indonesia sepanjang tahun 2026 membunyikan alarm bahaya. Catatan mengerikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkap adanya 601 operasi SAR kecelakaan kapal sejak Januari hingga pertengahan Agustus 2026, yang menelan total 3.607 korban.

Dari angka fantastis tersebut, sebanyak 239 jiwa dipastikan tewas dan 203 orang lainnya masih hilang di telan lautan.

Fakta kelam ini memicu ledakan amarah Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Sudjatmiko, dalam rapat kerja panas bersama Kementerian Perhubungan, Basarnas, dan BMKG di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Ia menegaskan bahwa deretan nyawa yang hilang tak boleh sekadar bermuara jadi angka statistik belaka.

“601 kecelakaan kapal dalam waktu kurang dari delapan bulan adalah angka yang harus menjadi alarm bagi kita semua. Ini menyangkut keselamatan ribuan masyarakat yang menggunakan transportasi laut,” cecar Sudjatmiko.

Sudjatmiko membongkar praktik pengawasan melenceng di lapangan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Ia menuding petugas pelabuhan sering kali royal memberi izin berlayar hanya berpatokan pada dokumen administratif, tanpa menguji langsung kelaikan alat keselamatan kapal.

Isu krusial seperti pemadam kebakaran yang mati total, mesin kendaraan yang dibiarkan menyala di dek, hingga manifest penumpang tidak lengkap masih marak ditemukan.

“Jangan sampai kapal dinyatakan laik hanya karena dokumennya lengkap, sementara ketika terjadi kebakaran ternyata pompa atau alat pemadamnya tidak berfungsi! Pemeriksaan harus menyentuh kondisi dan fungsi peralatan di lapangan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, data manifest yang ngawur bukan sekadar pelanggaran administrasi, melainkan ‘hukuman mati’ bagi korban saat bencana terjadi karena menyulitkan proses evakuasi.

Tak hanya menghajar sisi pengawasan hulu, Sudjatmiko juga mendesak pemerintah untuk menyuntikkan anggaran ekstra bagi Basarnas di garis hilir. Luasnya wilayah perairan Indonesia dinilai mustahil ditangani dengan peralatan seadanya.

Ia mendorong pengadaan teknologi drone dan alat pemindai canggih agar radius pencarian korban hilang di lautan bisa dilakukan lebih cepat dan presisi.

“Keselamatan harus dibangun sebelum kapal berangkat, bukan baru diperbaiki setelah kecelakaan terjadi. Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya!” pungkas Sudjatmiko. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version