Connect with us

NASIONAL

DPR: Jangan Tunggu Kapal Tenggelam Baru Bergerak

Aktualitas.id -

Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Rentetan kecelakaan kapal laut yang terus memakan korban jiwa memantik amarah Senayan. Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, melontarkan kritik tajam terhadap sistem keselamatan perhubungan laut yang dinilai jalan di tempat. Ia bahkan membandingkan wajah maritim Indonesia yang masih carut-marut dengan revolusi besar-besaran di sistem perkeretaapian.

Menurut Mori, PT KAI sukses menyulap budaya transportasi yang dulunya barbar menjadi modern dan tertata.

“Dulu orang barang-barangnya, kemudian di keretanya. Bukan cuma orang naik di atapnya, tapi naik di lokomotif, di toilet dan sempit-sempitan. Sekarang kereta yang paling sederhana saja rapi, stasiunnya bagus,” sindir Mori, Selasa (22/9).

Ia mendesak agar Kementerian Perhubungan melakukan transformasi serupa di sektor pelayaran dengan peta jalan (roadmap) yang jelas, bukan sekadar panik saat ada musibah.

Kritik Mori kian tajam saat menyoroti tragedi kapal tenggelam baru-baru ini yang penanganannya dinilai sangat lamban. Ia membongkar fakta mengerikan bahwa sekitar 120 korban masih terjebak di dalam lambung kapal yang terbalik. Tim SAR Gabungan bahkan disebut kehabisan akal karena minimnya ruang manuver.

“Basarnas sudah tidak bisa masuk karena tidak ada ruang manuver lagi. Keluarnya surat dari Basarnas meminta kementerian untuk melakukan salvage atau mengubah posisi kapal. Kalau tidak diubah, walau ditambah tim penyelamat, tetap sulit,” ungkapnya ngeri.

Imbas dari bangkai kapal yang tak kunjung dievakuasi ini juga melumpuhkan alur pelayaran. Sekitar 60 kapal terpaksa harus dialihkan dan menyesuaikan jalur.

Mori menegaskan, sengkarut keselamatan transportasi laut ini tidak akan selesai hanya dengan menaikkan kesejahteraan pegawai atau bongkar-pasang jabatan. Evaluasi menyeluruh terhadap validitas manifes penumpang, kesiapan alat keselamatan, dan penegakan sanksi tegas adalah harga mati.

“Ini nggak cukup Dirjen yang perbaiki, terkadang (mengganti) Dirjen itu cuma gimmick saja,” tutup Mori dengan nada pedas. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version