Connect with us

OASE

Jin Itu Ada, Tapi Jangan Asal Percaya Hantu

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Percaya pada hal gaib adalah bagian dari rukun iman, namun batasannya sering kali kabur hingga terperosok ke dalam lembah takhayul. Sejak zaman Mesir Kuno hingga era modern, manusia kerap dihantui keyakinan akan roh, jin, dan berbagai mitos pembawa sial. Namun, Islam hadir secara tegas untuk meruntuhkan warisan budaya jahiliah tersebut dan memisahkan mana yang gaib dan mana yang sekadar syirik khafi (kesyirikan tersembunyi).

Rasulullah ﷺ membawa risalah tauhid yang memukul telak segala bentuk mitos “kesialan” atau ramalan. Keyakinan bahwa hari tertentu membawa nahas, atau burung hantu (al-hāmah) yang bertengger di atap rumah sebagai pertanda kematian, dengan tegas dibantah dalam Islam.

Nabi ﷺ bersabda dalam hadis sahih: “Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada tathayyur (merasa sial karena pertanda), tidak ada burung hantu (yang membawa sial), dan tidak ada bulan ṣafar (yang dianggap naas).” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Praktik menghubungkan kesialan dengan hal-hal yang dilihat atau didengar ini disebut Tathayyur. Syaikh ‘Abdu al-Raḥmān ibn Ḥasan Āl al-Syaikh menjelaskan bahwa istilah ini berasal dari kebiasaan orang Arab kuno yang menentukan nasib baik atau buruk dari arah terbang burung. Dalam kacamata Islam dan ilmu pengetahuan modern, ini murni warisan pra-tauhid yang sama sekali tidak memiliki kekuatan penentu nasib manusia.

Mengungkap Fakta ‘Ghul’ dan Arwah Penasaran

Salah satu mitos terbesar yang sering disalahpahami adalah sosok al-ghul, makhluk halus yang diyakini kerap menampakkan diri dalam wujud mengerikan untuk menyesatkan musafir di padang pasir.

Meski Nabi ﷺ menafikan keyakinan bahwa ghul bisa menyesatkan manusia tanpa izin Allah, Islam tidak menolak eksistensi jin secara mutlak. Jin dan setan adalah entitas nyata, bukan sekadar arwah orang mati atau roh penasaran seperti yang diyakini sebagian masyarakat.

Penciptaan jin ditegaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS. al-Hijr ayat 26-27: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”

Kiai Ahmad Miftah al-Amir menegaskan, menolak keberadaan jin sama artinya dengan menolak wahyu Al-Qur’an. Namun, Islam mengajarkan rasionalitas. Tidak semua fenomena aneh adalah “gangguan makhluk halus”. Banyak ketakutan hanyalah hasil imajinasi atau sugesti lingkungan yang bisa dijelaskan secara medis.

Senjata Utama Mengusir Gangguan, Bukan Jimat!

Jika benar-benar terjadi gangguan spiritual, Islam melarang keras penggunaan benda magis, jimat, atau ritual aneh. Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang sangat rasional namun bertenaga: zikir dan doa.

Ketika berhadapan dengan fenomena ghilan (bentuk jamak dari ghul), Nabi ﷺ menginstruksikan umatnya untuk mengumandangkan azan. Selain itu, ada satu kalimat perlindungan pamungkas yang diajarkan Rasulullah saat mendatangi tempat baru atau angker.

“Barang siapa singgah di suatu tempat lalu berkata: ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya’ (A‘ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq), maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya hingga ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim).

Islam hadir memadukan pengakuan terhadap realitas gaib dengan penolakan mutlak terhadap takhayul. Segala bentuk nasib, perlindungan, dan kekuatan murni berada di tangan Allah semata, bukan pada benda bertuah apalagi makhluk kasat mata. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version