RAGAM
Laksamana Malahayati: Inspirasi bagi Perempuan Indonesia
AKTUALITAS.ID – Setiap jengkal kemerdekaan Indonesia adalah hasil dari tumpahan darah dan semangat juang para pahlawan. Dalam jajaran nama-nama besar tersebut, bersinar terang nama Laksamana Malahayati, seorang figur legendaris yang membuktikan bahwa kepemimpinan dan keberanian di medan perang tidak mengenal batas gender. Keumalahayati, pahlawan nasional wanita asal Kesultanan Aceh, dikenang bukan hanya sebagai pejuang, tetapi juga sebagai pemimpin militer perempuan pertama yang mendapatkan gelar Laksamana di dunia pada masanya.
Dari Akademi Militer Hingga Kepala Pengawal Istana
Lahir sekitar tahun 1550, Keumalahayati telah dipersiapkan sejak muda untuk mengabdi pada kesultanan. Ia mengenyam pendidikan militer matra angkatan laut di akademi bergengsi milik kesultanan, yaitu Mahad Baitul Maqdis. Pendidikan ini membentuknya menjadi seorang ahli strategi laut yang tangguh.
Jejak karirnya melesat di lingkungan istana. Saat berusia 35 tahun, ia sudah dipercaya untuk menduduki posisi penting sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah. Ini menunjukkan betapa besar kepercayaan Sultan Riayat Syah terhadap kemampuan dan loyalitas Malahayati.
Titik Balik di Teluk Haru: Sumpah Balas Dendam
Titik balik yang mengubah hidup Malahayati, dan sekaligus menentukan Sejarah Aceh melawan kolonialisme, terjadi pada pertempuran laut melawan Portugis di perairan Teluk Haru, dekat Selat Malaka pada tahun 1586.
Pertempuran sengit tersebut dipimpin oleh suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief. Meskipun armada Kesultanan Aceh berhasil memukul mundur pasukan Portugis, kemenangan itu harus dibayar mahal: suaminya gugur di medan laga.
Kematian sang suami menyulut api dendam dan semangat juang yang luar biasa di dalam diri Keumalahayati. Ia bersumpah untuk menuntut balas atas gugurnya suami dan rekan-rekan seperjuangan, sekaligus berjanji akan menggantikan posisi Laksamana yang ditinggalkan.
Kelahiran Armada Inong Balee dan Gelar Laksamana Dunia
Menanggapi permintaan Malahayati, Sultan Riayat Syah memberikan dukungan penuh. Ia tidak hanya menyetujui, tetapi juga memberikan gelar prestisius Laksamana kepada Malahayati. Secara historis, ini menjadikannya Pahlawan Nasional Perempuan sekaligus Laksamana perempuan pertama yang tercatat di dunia saat itu.
Dengan wewenang barunya, Malahayati segera membentuk sebuah armada tempur laut baru yang unik dan ditakuti: Inong Balee. Armada ini seluruhnya beranggotakan perempuan yang berstatus janda, yang kebanyakan adalah istri-istri dari prajurit Aceh yang gugur di pertempuran Teluk Haru.
Tugas utama Laksamana Malahayati adalah memimpin Angkatan Laut Kerajaan Aceh, fokus utama adalah melawan agresi bangsa asing, terutama Portugis dan Belanda.
Pertempuran Paling Ikonik: Menumbangkan Cornelis de Houtman
Kepiawaian Malahayati sebagai komandan perang terbukti paling ikonik dalam pertempurannya melawan armada Belanda pada tahun 1599. Pertempuran yang mematikan ini terjadi di tengah ketegangan akibat sifat sewenang-wenang yang ditunjukkan oleh pemimpin ekspedisi Belanda.
Dalam pertempuran yang heroik, kecerdasan strategi dan keberanian Malahayati berhasil melumpuhkan musuh. Hasil yang paling mengejutkan dunia adalah tewasnya pemimpin pasukan Belanda, Cornelis de Houtman, yang tewas di tangan Malahayati. Peristiwa ini mencatat nama Malahayati sebagai komandan perempuan yang berhasil menewaskan pemimpin armada kolonial paling awal di Nusantara.
Selain lihai berperang, Malahayati juga dikenal memiliki kepandaian dalam bernegosiasi, yang kerap ia gunakan untuk menjaga kepentingan Kesultanan Aceh.
Gugur dan Pengakuan Pahlawan Nasional Perempuan
Sayangnya, kisah kepahlawanan Malahayati berakhir pada tahun 1615. Ia gugur saat sedang melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan armada Portugis, namun warisan perjuangannya tetap abadi.
Atas jasa-jasa luar biasa dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan perannya yang inspiratif bagi kaum perempuan, Presiden Joko Widodo akhirnya menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Perempuan pada 9 November 2017. Pengakuan ini tertuang dalam Keputusan Presiden RI nomor 115/TK/Tahun 2017. Kisah Keumalahayati akan terus dikenang sebagai simbol keberanian dan kecintaan yang tak tergoyahkan terhadap tanah air. (Mun)
-
PAPUA TENGAH14/02/2026 16:50 WIB5 Pelajar Pelaku Perampokan Kios di Mimika Ditangkap Tim BABAT
-
PAPUA TENGAH14/02/2026 19:15 WIBPerpanjangan Masa Jabatan, 133 Kepala Kampung di Mimika Bakal Dievaluasi
-
DUNIA14/02/2026 19:30 WIBJika Dialog Dengan Iran Gagal, Trump Ancam Pakai Kekuatan Besar
-
JABODETABEK15/02/2026 06:30 WIB4 Orang Tewas dalam Kecelakaan di Jalan Rusak Pasar Kemis Tangerang
-
NUSANTARA14/02/2026 17:00 WIBTekan Pencemaran, Sungai Cisadane Dituangkan Ecoenzym
-
RAGAM14/02/2026 19:33 WIBLewat “Selamanya” HIMM Hadirkan Warna Baru Pop Indonesia yang Lebih Tenang dan Bermakna
-
OTOTEK14/02/2026 17:30 WIBMaextro S800 Sedan Mewah Terlaris
-
DUNIA14/02/2026 22:00 WIBPusat kota London Sambut Bulan Suci Ramadhan

















