Connect with us

RAGAM

Simon Bolívar: Sang Pembebas Amerika Latin yang Mengubah Sejarah Dunia

Aktualitas.id -

Simon Bolivar, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dunia, nama Simon Bolivar menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya pahlawan nasional Venezuela, tetapi juga dikenal sebagai El Libertador atau Sang Pembebas yang berperan besar dalam membebaskan sejumlah negara Amerika Latin dari penjajahan Spanyol.

Simon Bolivar tercatat memimpin perjuangan kemerdekaan Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, dan Bolivia. Perannya yang luas membuatnya sering disebut sebagai tokoh yang berupaya membangun gagasan United States of Latin America, sebuah federasi negara-negara Amerika Selatan.

Latar Belakang Simon Bolivar

Simon Bolivar lahir dari keluarga bangsawan keturunan Spanyol di Venezuela. Ia kehilangan ayahnya saat berusia tiga tahun dan ibunya enam bulan kemudian. Sejak muda, Bolivar dibesarkan dengan pendidikan elit dan pemikiran maju.

Pemikiran liberal Bolivar sangat dipengaruhi oleh gurunya, Jean-Jacques Rousseau, filsuf besar dari era Pencerahan. Selain itu, ia mendalami karya para pemikir rasionalis Eropa seperti John Locke, Thomas Hobbes, Montesquieu, Count de Buffon, dan Jean le Rond d’Alembert. Dalam karier politiknya, pemikiran Rousseau dan Montesquieu menjadi fondasi utama perjuangannya.

Perjuangan Membebaskan Amerika Latin

Perjuangan Simon Bolivar dimulai dengan pembebasan Venezuela pada 1810, meski Spanyol sempat merebut kembali wilayah tersebut. Namun Bolivar tidak menyerah. Ia kembali memimpin perlawanan hingga akhirnya Venezuela benar-benar merdeka pada 1821, disusul Ekuador pada 1822.

Puncak perjuangannya terjadi pada 6 Agustus 1824 dalam Pertempuran Junín, ketika pasukan Simon Bolivar mengalahkan tentara Spanyol dan membuka jalan bagi kemerdekaan Peru. Setahun kemudian, pada 1825, Bolivar mengalahkan Spanyol di wilayah utara Peru yang kemudian dinamai Bolivia, sebagai penghormatan atas jasanya.

Tokoh Anti-Perbudakan dan Ambisi Besar

Meski bukan dikenal sebagai ahli strategi militer, Simon Bolivar memiliki ambisi besar dan karisma kepemimpinan. Ia juga merupakan tokoh yang menentang perbudakan. Sepanjang hidupnya, Bolivar membebaskan seluruh budak yang ia miliki dan mendorong penghapusan perbudakan di wilayah-wilayah yang dimerdekakannya.

Namun, visi besar Bolivar tidak selalu berjalan mulus. Ia bercita-cita menyatukan negara-negara Amerika Selatan dalam Republik Kolombia Raya (Gran Colombia). Gagasan ini menghadapi penolakan dan perlawanan dari berbagai daerah, bahkan memicu konflik internal.

Akhir Hidup Sang Pembebas

Dalam upaya mempertahankan persatuan, Bolivar sempat menggunakan cara-cara otoriter. Pada 1828, ia bahkan selamat dari upaya pembunuhan dengan bantuan kekasihnya, Manuela Sáenz. Saat merancang Konstitusi Bolivia, Bolivar membayangkan jabatan presiden seumur hidup, sebuah gagasan yang menuai kontroversi dan tidak populer di Gran Colombia.

Akhirnya, pada 1830, Simon Bolivar mengundurkan diri dari kursi kepresidenan. Ia wafat pada usia 47 tahun akibat penyakit tuberkulosis (TBC), dalam kondisi miskin, sakit, dan terasing. Kisah pilu akhir hidupnya diabadikan dalam novel The General in His Labyrinth karya Gabriel García Márquez.

Beberapa penelitian bahkan menyebut kemungkinan Bolivar wafat akibat keracunan arsenik dari makanan atau air yang dikonsumsinya, meski hal ini masih menjadi perdebatan sejarah.

Dalam proklamasi terakhirnya kepada rakyat, Bolivar menyampaikan harapan besar akan persatuan Amerika Latin:

“Keinginan terakhir saya adalah kebahagiaan tanah air. Jika kematian saya berkontribusi pada berakhirnya perpecahan dan persatuan tercapai, saya akan turun dengan damai ke dalam kubur saya.”

Warisan Simon Bolivar

Hingga kini, Simon Bolivar dikenang sebagai tokoh besar dan berpengaruh di Amerika Latin, simbol perjuangan melawan kolonialisme, ketidakadilan, dan perbudakan. Meski hidupnya berakhir tragis, gagasan dan semangat El Libertador tetap hidup dalam sejarah dunia. (Mun)

TRENDING