Connect with us

RAGAM

Bukan Cuma Hujan, Peneliti BRIN Ungkap 3 Penyebab Utama Jakarta Sering Banjir

Aktualitas.id -

Ilustras, Dok; aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Banjir yang kian sering melanda Jakarta dan sekitarnya tidak semata-mata dipicu oleh hujan ekstrem. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, banjir di ibu kota merupakan hasil interaksi kompleks berbagai faktor, mulai dari dinamika iklim, kondisi hidrologi, tata guna lahan, hingga pengelolaan sumber daya air yang belum optimal.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, mengatakan persoalan banjir Jakarta bersifat multifaktor dan saling berkaitan.

“Banjir Jakarta tidak bisa dilihat dari satu penyebab saja. Ada tekanan multidimensi yang saling berkelindan,” ujar Budi, dikutip dari blog resmi BRIN, Senin (9/2/2026).

Berdasarkan hasil riset terkini, terdapat tiga pemicu utama banjir Jakarta. Pertama, penurunan permukaan tanah (land subsidence) dengan laju bervariasi antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kedua, curah hujan ekstrem yang intensitasnya melampaui kapasitas sistem drainase. Ketiga, kondisi infrastruktur drainase dan sungai yang tidak berfungsi optimal akibat sumbatan sampah dan pendangkalan.

“Kondisi ini secara drastis menurunkan kapasitas alir saluran dan sungai,” jelas Budi.

Ia menjelaskan, sebagian besar sungai dan kanal di Jakarta mengalami penyempitan penampang akibat sedimen dari wilayah hulu. Akibatnya, debit air yang relatif kecil pun dapat dengan mudah meluap dan menggenangi kawasan permukiman.

Menurut Budi, penanganan banjir Jakarta membutuhkan strategi terpadu jangka pendek dan jangka panjang. Dalam waktu dekat, ada sejumlah langkah mendesak yang perlu dilakukan.

Pertama, penerapan sistem polder di seluruh wilayah dengan tingkat bahaya banjir tinggi. Kedua, optimalisasi sistem peringatan dini terintegrasi berbasis analisis data mutakhir, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Ketiga, pembangunan infrastruktur penahan debit banjir di wilayah hulu.

BRIN juga mengembangkan berbagai inovasi teknologi, seperti penggunaan Synthetic Aperture Radar (SAR) 2D dan 3D yang dikombinasikan dengan multi-track InSAR untuk memetakan penurunan tanah sekaligus potensi banjir secara lebih presisi.

Selain itu, BRIN tengah mengembangkan AI untuk memprediksi kenaikan muka air Bendungan Katulampa berbasis data satelit, sehingga waktu peringatan dini bagi warga Jakarta dapat lebih panjang dan akurat.

“Solusinya memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kuncinya ada pada komitmen politik lintas wilayah, koordinasi antar-lembaga, dan partisipasi aktif masyarakat,” tegas Budi.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menambahkan bahwa frekuensi cuaca ekstrem meningkat seiring dampak perubahan iklim global. Ia mencontohkan hujan ekstrem di Jakarta pada pergantian tahun 2020, dengan curah hujan harian mencapai 377 mm di Stasiun Halim Perdana Kusuma.

“Curah hujan ekstrem sulit diprediksi karena keterbatasan data beresolusi tinggi dan sifat data yang tidak stasioner,” jelas Eddy.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BRIN kini memanfaatkan pendekatan machine learning, deep learning, AI, dan big data. Salah satu metode yang dikembangkan adalah Hybrid ARIMA-LSTM untuk memprediksi anomali curah hujan dengan akurasi lebih baik dan jangkauan waktu prediksi lebih panjang.

Menurut Eddy, data satelit, re-analisis, serta data in-situ dari BMKG perlu diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini yang tepat waktu, tepat sasaran, dan presisi hingga skala wilayah kecil.

Ia menambahkan, hujan ekstrem umumnya dipicu oleh awan besar seperti Cumulonimbus (Cb) atau SCCs yang dapat mencapai ketinggian 15–16 kilometer, sehingga data radar cuaca menjadi sangat krusial.

Terkait Musim Hujan 2026, Eddy menyebut belum ada kepastian waktu berakhirnya. Namun, ia memprediksi musim hujan akan berakhir pada akhir Februari atau awal Maret 2026, seiring dua pengontrol utama, yakni Monsun Asia dan Indian Ocean Dipole (IOD), mulai bergerak menuju fase netral.

Temuan BRIN ini menegaskan bahwa penanganan banjir Jakarta memerlukan pendekatan ilmiah, teknologi canggih, serta kebijakan lintas sektor agar persoalan banjir tidak terus berulang setiap tahun. (Kusuma/Mun)

TRENDING