Connect with us

RAGAM

Saat Proses Duka Kehilangan, Inilah Dukungan yang Diperlukan

Aktualitas.id -

Ilustrasi: Seorang yang bersedih karena kedukaan. (iStock).

AKTUALITAS.ID – Setiap individu memiliki cara berbeda dalam memproses kedukaan. Dalam hal ini perlu dukungan membantu individu memahami perasaan dirinya.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan mengemukakan bentuk dukungan yang diperlukan saat memproses kedukaan atau grieving process usai kehilangan orang tersayang.

“Memproses kedukaan terhadap diri kita karena biasanya semakin kita memahami diri kita, semakin baik dibanding kalau kita enggak memahami diri jadi kita juga enggak tahu bagaimana cara memprosesnya dan sebagainya,” kata Sani di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan dalam memproses kedukaan, seseorang dapat mengalami berbagai gejala yang biasanya muncul seperti rasa rindu, kehilangan, hingga penyesalan atas hal-hal yang belum sempat dilakukan.

Emosi seperti marah dan sedih juga kerap muncul secara bersamaan dan berulang. Saat memproses kedukaan itu, kata Sani, perlu mewaspadai adanya potensi delay effect atau gejala yang tertunda.

Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin merasa baik-baik saja pada awalnya, tetapi emosi duka justru muncul lebih kuat di kemudian hari.

Oleh karena itu, ia menyarankan pentingnya dukungan dengan pendampingan ahli profesional sejak awal, terutama jika kehilangan terjadi secara mendadak.

“Mestinya sih dari awal ketika orang dicintai itu sudah meninggal karena tadi, mendadak karena kecelakaan misalnya, perlu sekali ke psikolog untuk antisipasi, memahami bagaimana proses kedukaan yang efektif buat setiap orang karena berbeda,” imbuh dia.

Sani juga menyampaikan dalam menunjukkan empati sebagai upaya memberikan bantuan kepada pihak yang tengah berduka, seperti mendengarkan ceritanya dan membiarkannya mengekspresikan kesedihan tanpa dibatasi.

Selain itu, jika memungkinkan sentuhan emosional seperti memeluk juga dapat membantu pihak yang berduka merasa tidak sendirian.

“Berempati itu kan lebih ke arah mendengarkan, bercerita-cerita tentang orang dikasih-nya selama hidup, kita dengarkan, berikan apresiasi terhadap misalnya si almarhum ternyata sebagai ibu yang hebat atau sebagai karyawan yang berprestasi,” kata dia.

Lebih lanjut, Sani menekankan dalam mendampingi pihak yang tengah berduka tidak boleh menyalahkan atau menghakimi. Tidak seharusnya seseorang memberi label “lebay” kepada individu yang sedang berduka.

Misalnya, ketika seseorang yang kehilangan lalu menangis terus-menerus hingga sulit tidur, sebaiknya disikapi sebagai hal yang wajar hal ini dinilai menjadi bentuk menghormati terhadap proses kedukaan mereka.

“Ketika setiap orang bisa mengeluarkan ekspresinya melalui tangisan misalnya, itu wajar dan sah-sah saja. Bukan berarti dia tidak beriman dan sebagainya. Ini yang menurut saya perlu juga orang di sekitarnya mendukung proses kedukaan sehingga jadi lebih optimal,” ujar Sani.

(Yan Kusuma/goeh)

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version