Connect with us

RAGAM

Bukan Orang PKI, Ini Sosok Asli Penerjemah Lagu Internasionale di Indonesia

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto Ki Hajar Dewantara : aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Setiap peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, satu lagu kerap menggema dalam aksi massa: Internasionale. Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan simbol perjuangan buruh dunia yang memiliki sejarah panjang lintas benua hingga sampai ke Indonesia melalui tangan Ki Hajar Dewantara.

Hari Buruh berakar dari perjuangan kelas pekerja di Amerika Serikat pada abad ke-19. Saat itu, para buruh dipaksa bekerja hingga 19–20 jam per hari dengan waktu istirahat yang sangat minim. Kondisi tersebut memicu gelombang protes besar pada 1 Mei 1886, di mana buruh menuntut sistem kerja delapan jam sehari.

Tuntutan itu kemudian menjadi tonggak sejarah. Pada 1889, Kongres Sosialis Dunia di Paris secara resmi menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap tahun di berbagai negara.

Seiring berkembangnya gerakan buruh global, lahirlah lagu L’Internationale yang ditulis oleh Eugene Pottier pada 1871, setelah Komune Paris. Lagu ini kemudian diberi komposisi musik oleh Pierre De Geyter pada 1888, dan mulai diadopsi secara luas sebagai lagu perjuangan buruh dunia pada 1900.

Kini, Internasionale telah diterjemahkan ke lebih dari 100 bahasa, termasuk Inggris, Arab, Tiongkok, hingga Indonesia.

Di Indonesia, tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi sosok penting dalam penyebaran lagu ini. Ia menyadur L’Internationale dari bahasa Belanda ke bahasa Melayu pada 1920 dan menerbitkannya di surat kabar Sinar Hindia. Terjemahan tersebut menjadi bagian dari semangat pergerakan melawan kolonialisme.

Menariknya, meski lagu ini kerap diasosiasikan dengan ideologi kiri, Ki Hajar Dewantara tidak pernah tercatat sebagai anggota organisasi komunis. Namun, pemikirannya yang menentang kapitalisme dan imperialisme memberi warna dalam interpretasi lagu tersebut.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, lagu Internasionale juga sempat dinyanyikan dalam berbagai forum pergerakan, termasuk oleh aktivis dan tokoh politik pada masa awal kemerdekaan.

Data dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa peringatan Hari Buruh di Indonesia sudah berlangsung sejak 1946. Saat itu, masyarakat berkumpul di Balai Agung Jakarta dengan rangkaian acara resmi, termasuk menyanyikan lagu Internasionale.

Seiring waktu, muncul berbagai versi terjemahan lagu ini di Indonesia. Mulai dari versi Ki Hajar Dewantara, versi PKI, hingga versi revisi oleh kelompok intelektual seperti Kolektif Enam Maret yang mencoba mengembalikan semangat asli Komune Paris.

Hingga kini, Internasionale tetap menjadi simbol global perjuangan buruh. Lebih dari sekadar lagu, ia adalah refleksi sejarah panjang perlawanan terhadap ketidakadilan, yang terus relevan di tengah dinamika dunia kerja modern. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version