Connect with us

OTOTEK

Denny JA Nyatakan Lahirnya Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan

Aktualitas.id -

Denny JA menjelaskan konsep Digitally Vulnerable Class atau pekerja digital rentan di era kapitalisme algoritma.

AKTUALITAS.ID – Pendiri LSI, Denny JA, memperkenalkan konsep Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan sebagai cikal bakal kelas sosial baru yang muncul seiring berkembangnya ekonomi digital dan penggunaan algoritma dalam berbagai sektor pekerjaan.

Gagasan tersebut disampaikan Denny JA melalui esai berjudul Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC) yang dipublikasikan di akun Facebook Denny JA’s World pada Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, dunia saat ini memasuki fase baru perkembangan kapitalisme yang tidak lagi bertumpu pada mesin seperti era industri atau modal finansial seperti abad ke-20. Dalam fase yang ia sebut sebagai kapitalisme algoritma, data dan algoritma menjadi faktor utama yang menentukan aktivitas ekonomi.

“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” kata Denny JA dalam esainya.

Dirinya menilai, peran algoritma kini melampaui fungsi teknis dalam produksi. Sistem digital juga menentukan akses terhadap pekerjaan, pendapatan, reputasi, hingga peluang ekonomi seseorang.

Fenomena tersebut terlihat pada jutaan pekerja platform digital, mulai dari pengemudi ojek online, kurir, freelancer, kreator konten, hingga pelaku usaha daring. Mereka menjalankan aktivitas ekonomi melalui platform yang aturan dan kebijakannya dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan sistem.

Berdasarkan berbagai estimasi yang dikutip dalam esai tersebut, jumlah pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar 4 juta orang. Sementara itu, pekerja yang terlibat dalam ekonomi digital secara lebih luas mencapai puluhan juta orang.

Denny JA menilai kondisi tersebut melahirkan bentuk kerentanan baru yang berbeda dari kelas sosial yang pernah dijelaskan para pemikir sebelumnya.

“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan DVC berbeda dari proletariat yang diperkenalkan Karl Marx maupun precariat yang dikemukakan Guy Standing. Jika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, pekerja DVC bergantung pada keputusan algoritma dan platform digital.

Menurut Denny JA, terdapat tiga karakter utama DVC. Pertama, kerentanan algoritmik, yakni kondisi ketika pendapatan, reputasi, dan keberlangsungan pekerjaan dapat berubah akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan. Kedua, identitas kolektif digital yang terbentuk melalui aplikasi, media sosial, dan komunitas daring. Ketiga, kerawanan harapan, ketika pekerja menggantungkan masa depan pada peluang viralitas, rating, atau perubahan algoritma.

Oleh karena itu, dirinya berpandangan DVC memang belum sepenuhnya menjadi kelas sosial baru yang mapan. Namun berbagai indikator menunjukkan kelompok tersebut berpotensi menjadi fenomena sosial terbesar pada abad ke-21.

“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” kata Denny JA.

Selain itu, Denny mendorong pemerintah dan perusahaan platform segera menyusun perlindungan sosial bagi pekerja digital. Menurutnya, Indonesia perlu mempertimbangkan regulasi serupa Platform Work Directive yang telah diterapkan Uni Eropa untuk menjamin hak dan kesejahteraan pekerja platform digital. (*)

TRENDING

Exit mobile version