NASIONAL
Buku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan dalam 35 Bahasa
AKTUALITAS.ID – Buku puisi esai karya Denny JA berjudul Yang Menggigil dalam Arus Sejarah akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Proyek tersebut menjadi salah satu penerjemahan karya sastra Indonesia dengan cakupan bahasa terluas hingga saat ini. Inisiatif itu diumumkan Penerbit CBI setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Inovasi Sastra.
Semula, gagasan penerjemahan muncul dari panitia BRICS Award yang mengusulkan agar karya puisi esai Denny JA diterjemahkan ke bahasa negara-negara anggota BRICS. Seiring pembahasan, rencana tersebut berkembang menjadi proyek yang menjangkau lebih banyak bahasa dengan tujuan menghadirkan kisah-kisah tragedi kemanusiaan kepada pembaca di berbagai negara.
Direktur Utama Penerbit CBI, Ari Nugroho, mengatakan penerjemahan karya sastra memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar alih bahasa.
“Bagi kami, penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan adalah cara memperluas empati antarmanusia,” ujar Ari.
Penghargaan BRICS Award 2025 diterima Denny JA setelah dinilai oleh sembilan dewan juri internasional yang mewakili seluruh negara anggota BRICS. Penilaian tersebut dilakukan terhadap ratusan kandidat dari berbagai negara.
Dari delapan buku puisi esai Denny JA yang telah tersedia dalam bahasa Inggris, Yang Menggigil dalam Arus Sejarah dipilih karena mengangkat tema yang dinilai memiliki daya jangkau universal. Buku tersebut memuat 15 puisi esai yang mengangkat berbagai peristiwa besar dalam sejarah dunia, mulai dari Perang Dunia Pertama, Flu Spanyol, Revolusi Rusia, bom Hiroshima, Pembantaian Nanking, Revolusi Prancis, perbudakan di Amerika, Holocaust, Ghetto Warsawa, kelaparan besar di bawah Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Tiongkok, hingga tragedi pengungsi Vietnam atau boat people.
Penerbit menilai karya tersebut menghadirkan perspektif berbeda karena tidak menempatkan tokoh-tokoh penguasa sebagai pusat cerita. Fokus utama justru diberikan kepada para korban yang mengalami langsung dampak berbagai tragedi sejarah.
“Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan,” demikian pernyataan Penerbit CBI.
Keunikan buku ini juga terletak pada bentuk puisi esai yang memadukan puisi naratif dengan catatan kaki berbasis fakta sejarah. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman emosional sekaligus memberikan konteks sejarah kepada pembaca.
“Sejarah menjelaskan apa yang terjadi. Puisi membantu kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalam peristiwa itu,” tulis Penerbit CBI.
Salah satu kisah dalam buku tersebut mengangkat perjalanan keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang menyeberangi Laut Cina Selatan demi mencari kehidupan baru. Menurut penerbit, cerita tersebut memperlihatkan sisi kemanusiaan yang melampaui angka statistik korban konflik.
“Bagi kami, adegan itu menunjukkan hakikat sastra. Statistik mampu mengejutkan, tetapi satu wajah manusia sering kali jauh lebih sulit dilupakan daripada jutaan angka,” ujar pihak penerbit.
Proyek penerjemahan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah selesai dengan enam bahasa utama, yakni Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin. Bahasa-bahasa tersebut dipilih karena memiliki cakupan pembaca yang luas di berbagai benua sekaligus menjadi bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta bahasa kerja negara-negara anggota BRICS.
Tahap kedua akan memperluas penerjemahan ke 29 bahasa tambahan di kawasan Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania dengan target penyelesaian pada akhir 2027. Seluruh edisi terjemahan akan dipublikasikan secara terbuka melalui Google Books agar dapat diakses pembaca dari berbagai negara tanpa hambatan geografis.
Untuk merealisasikan program tersebut, Penerbit CBI bekerja sama dengan sejumlah mitra penerjemahan serta pihak BRICS di Indonesia yang dikoordinasikan oleh Sastri Bakry sebagai koordinator Indonesia untuk inisiatif BRICS Literary Innovation.
Menanggapi proyek tersebut, Denny JA menegaskan tujuan utama penerjemahan bukan semata memperluas penyebaran karya sastra, melainkan memperkuat rasa kemanusiaan di tengah masyarakat dunia.
“Tiga puluh lima bahasa bukanlah tujuan akhir. Yang ingin saya sebarkan bukan sekadar puisi, melainkan kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain,” kata Denny JA.
-
POLITIK13/07/2026 17:17 WIBPengamat Mendukung Komitmen Presiden Prabowo Berantas Korupsi
-
OASE13/07/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Sebut Orang yang Mengingkari Kitab Allah Tersesat
-
NASIONAL13/07/2026 09:00 WIBPresiden Prabowo Suruh Warga yang Anggap Indonesia Suram untuk Pindah Negara
-
POLITIK13/07/2026 10:00 WIBGolkar: DIM RUU Pemilu Belum Ada
-
NUSANTARA13/07/2026 07:30 WIBKisah Gadis 15 Tahun di Sampang Diperkosa Bergilir 4 Bulan
-
POLITIK13/07/2026 16:23 WIBSatu Tahun Putusan MK, 30 Wamen Masih Betah di Kursi Komisaris BUMN
-
POLITIK13/07/2026 06:00 WIBMPR Belum Tutup Pintu Perubahan Konstitusi
-
DUNIA13/07/2026 08:00 WIBAmarah Militer AS Ratakan Situs Radar dan Pangkalan Udara Iran