Connect with us

DUNIA

Topan Bavi Ratakan China Timur dengan Angin 144 Km/Jam

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Isyarat kehancuran akibat pemanasan global kian nyata dan mengerikan. Tanpa ampun, badai raksasa Topan Bavi terus mengamuk dan mengacak-ngacak wilayah Asia Timur. Terbaru, hampir 2 juta warga di pesisir timur China terpaksa diusir dari rumah mereka dan dievakuasi secara besar-besaran pada Minggu (12/7/2026). Langkah darurat ini diambil otoritas setempat demi menghindari skenario pembantaian massal oleh alam.

Meskipun statusnya dikabarkan mulai melemah menjadi badai tropis kuat, sisa-sisa kekuatan Bavi saat menghantam daratan tetap berada di level yang sangat mematikan. Kantor berita Xinhua melaporkan, monster udara ini mendarat brutal di Provinsi Zhejiang pada Sabtu malam dengan kecepatan angin gila-gilaan mencapai 144 kilometer per jam!

“Wilayah inti yang terdampak mengalami angin kencang dan hujan lebat, dengan limpasan air yang cepat di permukaan tanah serta pohon-pohon di tepi jalan tumbang,” lapor stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Minggu (12/7/2026).

Hingga Minggu pagi, pusat badai dilaporkan bergeser ke dekat Kota Yiwu dengan daya hancur angin mencapai 108 kilometer per jam. Ketakutan akan adanya banjir bandang, luapan sungai yang menenggelamkan kota, hingga hancurnya lahan pertanian membuat pemerintah daerah setempat panik. Sekolah, perkantoran, dan jaringan transportasi lumpuh total. Lebih dari 400 penerbangan dan puluhan jalur kereta api dibatalkan seketika.

Pemerintah Kota Wenzhou bahkan mengeluarkan perintah ekstrem: lakukan segala cara tanpa peduli biaya demi menghadapi skenario terburuk! Di Beijing, situasi tak kalah mencekam. Hujan deras memaksa 100 ribu orang angkat kaki, sementara waduk raksasa Miyun terpaksa dibuka demi menahan ledakan air. Di Fujian dan Shanghai, ratusan ribu nyawa juga telah digeser paksa ke tempat pengungsian.

Sebelum menerjang China, keganasan Topan Bavi telah lebih dulu menelan korban jiwa di Asia Tenggara. Di Filipina, jumlah mayat yang ditemukan akibat tanah longsor dan banjir bandang imbas Bavi melonjak mengerikan menjadi 18 orang tewas, dengan mayoritas korban berada di Pulau Mindanao. Belasan ribu warga Filipina kini terlunta-lunta di pengungsian sementara pelabuhan dikunci rapat.

Tak hanya Filipina, Taiwan juga dibuat babak belur. Lebih dari 14 ribu orang dievakuasi, gelombang laut setinggi 10 meter mengancam pesisir, dan 170 ribu rumah tangga terpaksa hidup dalam kegelapan akibat pemandangan listrik massal. Sementara di Okinawa, Jepang, ribuan fasilitas umum dilaporkan hancur dan mati total.

Fenomena mengerikan ini bukan sekadar kebetulan. Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa baru saja merilis data mengerikan bahwa suhu rata-rata permukaan laut saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan manusia.

Ditambah dengan hantaman fenomena El Nino yang kembali memanaskan Samudra Pasifik, laut dunia kini berubah menjadi “bahan bakar” raksasa yang siap memperkuat setiap badai tropis menjadi monster pencabut nyawa. Malapetaka Bavi adalah peringatan keras: jika manusia terus merusak bumi, maka alam tidak akan ragu untuk meratakan peradaban. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version