Connect with us

NASIONAL

Denny JA: Jika Berhasil, Prabowo akan Dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa

Aktualitas.id -

Pengamat politik dan pendiri Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA,

AKTUALITAS.ID – Pengamat politik dan pendiri Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026 bukan sekadar penyampaian agenda ekonomi tahunan, melainkan penegasan arah baru ekonomi Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Denny JA melalui esai yang dipublikasikan di akun Facebook Denny JA’s World dan kemudian beredar luas di sejumlah grup WhatsApp. Dalam esainya, Denny menilai pesan utama pidato Presiden Prabowo menekankan persoalan kebocoran kekayaan nasional yang selama bertahun-tahun mengalir ke luar negeri.

“Ini paradoks terbesar Indonesia: negeri kaya, tetapi banyak rakyatnya belum menikmati kekayaan itu secara adil,” tulis Denny JA.

Menurut Denny, Presiden Prabowo ingin menunjukkan Indonesia bukan negara miskin sumber daya, melainkan negara yang selama ini belum mampu mengelola hasil kekayaannya secara optimal untuk kepentingan rakyat. Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti rumah besar dengan atap emas, tetapi mengalami kebocoran di berbagai sisi.

Denny menilai arah kebijakan ekonomi yang disampaikan Prabowo mengarah pada model nasionalisme ekonomi dengan pijakan Pasal 33 UUD 1945. Dalam skema itu, negara diposisikan sebagai pengarah utama sektor ekonomi strategis tanpa menghilangkan mekanisme pasar.

“Ini bukan sosialisme klasik, tetapi jalan tengah. Pasar tetap hidup, namun negara hadir untuk menjaga agar kekayaan nasional tidak terus bocor,” tulisnya.

Dalam pidato 20 Mei 2026, Prabowo disebut mengungkap selama 22 tahun Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar USD436 miliar. Namun, sekitar USD343 miliar di antaranya disebut kembali mengalir ke luar negeri. Jika dihitung rata-rata, nilai tersebut setara sekitar USD15,6 miliar atau sekitar Rp265 triliun per tahun.

Selain itu, terdapat estimasi kerugian akibat praktik under-invoicing selama 34 tahun yang disebut mencapai USD908 miliar atau sekitar Rp15.400 triliun. Denny menyebut angka tersebut bersumber dari pidato resmi Presiden yang merujuk pada data Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan.

“Ini bukan sekadar kebocoran kecil. Ini lubang besar dalam struktur ekonomi nasional,” ujar Denny JA.

Denny juga menilai pendekatan ekonomi Prabowo memiliki kemiripan dengan konsep developmental state yang pernah diterapkan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Menurutnya, keberhasilan negara-negara tersebut lahir dari campur tangan negara dalam menentukan sektor strategis, melindungi industri muda, mendorong investasi, serta transfer teknologi.

“Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan tidak naik kelas hanya dengan menjual bahan mentah. Mereka maju karena negara memimpin industrialisasi dengan disiplin dan visi jangka panjang,” tulisnya.

Meski demikian, Denny mengingatkan keberhasilan model tersebut sangat bergantung pada kualitas birokrasi dan tata kelola pemerintahan. Ia menilai kebijakan seperti ekspor satu pintu melalui BUMN hanya efektif jika dijalankan secara transparan, profesional, berbasis teknologi digital, dan disertai audit independen.

“Jika tidak, kebocoran lama hanya pindah rumah: dari swasta gelap ke birokrasi gelap,” ujarnya.

Denny juga menyoroti risiko nasionalisme ekonomi tanpa tata kelola yang kuat dengan mencontohkan Venezuela dan Nigeria sebagai negara kaya sumber daya namun menghadapi persoalan korupsi dan lemahnya institusi.

“Pelajaran dunia sangat jelas: negara kuat tanpa integritas bisa berubah menjadi predator. Tetapi negara kuat dengan kompetensi bisa menjadi pembangun peradaban,” kata Denny JA.

Di bagian akhir esainya, Denny menilai pidato Presiden Prabowo hanya akan memiliki dampak besar apabila diikuti reformasi tata kelola yang disiplin, akuntabel, dan berorientasi hasil.

“Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan tanpa institusi hanya menjadi cerita sedih. Nasionalisme tanpa kompetensi menjadi slogan. Negara kuat tanpa akuntabilitas menjadi bahaya,” tulisnya.

Ia menambahkan, apabila kebocoran ekonomi berhasil ditekan dan industrialisasi nasional berjalan efektif, Indonesia berpeluang memasuki fase baru pembangunan ekonomi.

“Jika berhasil, Prabowo meletakkan fondasi Indonesia baru. Ia akan dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa,” pungkas Denny JA. (ARI)

TRENDING

Exit mobile version