Connect with us

NUSANTARA

Asap Sumsel Makin Tebal, Warga Mulai Sesak Napas

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) memasuki babak kritis. Kamis (22/10/2026) pagi, seluruh jalanan perkotaan nyaris lumpuh ‘ditelan’ kabut asap pekat yang membuat jarak pandang drop drastis. Alih-alih mereda, kualitas udara justru makin horor dan mengancam nyawa warga.

Pantauan di lapangan, kepungan asap beracun ini tak hanya mengganggu mobilitas, tapi juga memicu krisis kesehatan. Warga mulai bertumbangan dengan keluhan mata perih, sesak napas parah, hingga batuk berlendir.

“Semakin tebal, mengganggu aktivitas sehari-hari. Mata perih, sesak napas. Rasanya seperti berada di atas awan, tapi ini panas tebal, asap semua,” keluh Hendra Basirin, salah satu warga Palembang yang terdampak.

BACA JUGA  Menko Djamari: 107 Ribu Hektare Hutan Indonesia Hangus Terbakar

Kondisi mencekik ini memicu kemarahan publik. Warga mulai mempertanyakan ke mana larinya anggaran penanganan karhutla, terutama proyek penyemaian dry ice (es kering) yang dibanggakan pemerintah beberapa hari lalu. Nyatanya, proyek tersebut dianggap gagal total meredam asap.

“Penggunaan dry ice cuma bertahan sehari, setelah itu hilang lagi. Ngabisi duit bae (menghabiskan uang saja), bertahan cuma dua hari, kabut datang lagi, ada lagi,” sindir Hendra dengan nada kesal.

Sebagai catatan, pada 19 Oktober lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggandeng BRIN memamerkan aksi penyemaian 1.600 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam. Tujuannya memecah asap dan memicu hujan buatan. Namun, di mata warga, proyek tersebut tak lebih dari sekadar solusi instan yang tak menyelesaikan akar masalah.

BACA JUGA  Sahroni Desak Polisi Buru Pemodal Pembakaran Lahan

Kini, publik menuntut keseriusan dan tanggung jawab nyata dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Warga merasa ditinggalkan di tengah bencana yang sudah berlangsung dua bulan penuh tanpa titik terang.

Di sisi lain, pihak BNPB berdalih bahwa efektivitas Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini sangat bergantung pada kondisi alam. Sayangnya, angin yang diharapkan mampu menyapu asap saat ini sedang stagnan di kecepatan 5-10 km/jam (Irawan/Mun)

TRENDING