Berita
Pengamat Nilai Partai Islam Hanya Menjadi Pelengkap di Pilpres 2024
AKTUALITAS.ID – Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menyorot elektabilitas partai-partai berbasis Islam yang sulit naik dalam beberapa pemilihan umum (Pemilu) terakhir. Ia pun menilai tak heran jika partai-partai Islam hanya akan menjadi pelengkap pada 2024. “Partai Islam dan partai berbasis massa Islam, ya, selalu diajak, bukan pemain utama […]
AKTUALITAS.ID – Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menyorot elektabilitas partai-partai berbasis Islam yang sulit naik dalam beberapa pemilihan umum (Pemilu) terakhir. Ia pun menilai tak heran jika partai-partai Islam hanya akan menjadi pelengkap pada 2024.
“Partai Islam dan partai berbasis massa Islam, ya, selalu diajak, bukan pemain utama yang mengajak, tapi diajak oleh partai-partai berbasis nasionalis,” ujar Lili dalam sebuah diskusi daring, Sabtu (30/10/2021).
Lili mengatakan, partai-partai Islam saat ini tak memiliki figur yang kuat untuk maju sebagai calon presiden atau wakil presiden. Tokoh-tokoh yang ada di dalamnya belum sebanding dengan sosok yang biasa menempati posisi teratas dalam banyak hasil survei.
“Begitu pun juga dengan pencalonan (presiden), mereka akan diajak, bukan menjadi pemain utama. Itu catatannya,” ujar Lili.
Bukan berupaya meraih suara rakyat, partai-partai Islam justru sibuk dengan konflik internalnya. Tak jarang, akhir dari permasalahan tersebut berujung pecahnya partai menjadi sejumlah kubu dan mendirikan partai baru.
Beberapa contohnya adalah Partai Gelora yang merupakan pecahan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kemudian, Partai Ummat yang diinisiasi oleh Amien Rais yang merupakan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN).
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga sempat mengalami konflik besar dalam perebutan kursi ketua umum. Lalu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sempat lama terbelah menjadi dua kubu.
“Nampaknya partai-partai Islam ini tidak bisa naik ke atas, selalu middle class. Udah middle class dihantam oleh perpecahan,” ujar Lili.
Kontestasi di 2024 dinilainya juga akan semakin sulit bagi partai-partai Islam, karena adanya ambang batas parlemen sebesar 4 persen. Kemudian ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sebesar 20 persen.
Menurutnya, partai-partai berbasis nasionalis, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, dan Partai Gerindra masih akan berada di posisi teratas pada Pemilu 2024. Sehingga nilai tawar partai Islam untuk mencalonkan kadernya sebagai calon presiden atau wakil presiden akan semakin tipis.
“Jadi ini tantangan bagi partai-partai islam dan partai berbasis Islam, bagaimana mereka bisa naik kelas mengalahkan partai-partai nasionalis,” ujar Lili.
-
NASIONAL15/08/2026 19:00 WIBKemhan Beri Restu Logonya Dipasang di Kapal Haji Isam
-
NUSANTARA15/08/2026 18:30 WIBGempa M 6,4 Simalungun Bikin Warga Medan Hingga Aceh Berhamburan Keluar Rumah
-
NASIONAL15/08/2026 13:00 WIBAmnesty: Pidato Prabowo Disebut Minim Bahas HAM
-
NUSANTARA15/08/2026 07:30 WIBBNPB: Gempa M 7 Renggut 2 Nyawa di NTT
-
NUSANTARA15/08/2026 11:30 WIBGempa M7 NTT Telan 5 Korban Jiwa
-
NUSANTARA15/08/2026 09:30 WIB10 Wilayah Diterjang Tsunami Usai Gempa M7
-
NUSANTARA15/08/2026 10:30 WIBGempa M7 Rusak Rumah hingga Hotel di NTT
-
POLITIK15/08/2026 07:00 WIBDasco Tegaskan Seluruh Fraksi Diajak Bahas RUU Pemilu Pekan Depan

















