OASE
Terungkap! Ini Alasan Surat Al-Baqarah Disebut Sapi Betina
AKTUALITAS.ID – Surah Al-Baqarah merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur’an. Secara harfiah, Al-Baqarah berarti “Sapi Betina”. Namun, tahukah Anda mengapa surat yang memuat ayat Kursi ini dinamakan demikian?
Ternyata, penamaan ini merujuk pada satu kisah ikonik dan penuh hikmah di kalangan Bani Israil pada masa Nabi Musa ‘alaihis salam. Kisah ini dimuat dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 67 hingga 73.
Berikut adalah sejarah dan kronologi lengkap kisah sapi betina yang menjadi latar belakang penamaan surat Al Baqarah, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber tafsir terpercaya.
Tragedi Pembunuhan Misterius demi Warisan
Kisah bermula di kalangan Bani Israil, di mana terdapat seorang pria kaya raya namun tidak memiliki ahli waris dekat selain seorang saudara sepupu yang fakir.
Lantaran tak sabar ingin menguasai harta warisan sepupunya tersebut, sang saudara sepupu tega membunuh orang kaya itu. Untuk menutupi jejak bejatnya, pelaku membawa mayat korban ke desa lain dan melemparkannya di pelataran desa tersebut agar warga desa itu dituduh sebagai pembunuh.
Keesokan harinya, si pembunuh berlagak paling sedih dan menuntut keadilan. Bersama orang-orang, dia mendatangi Nabi Musa ‘alaihis salam dan memohon agar Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT untuk mengungkap siapa pembunuh sebenarnya di tengah ketidakpastian tersebut.
Perintah Menyembelih Sapi dan Watak Bani Israil
Menjawab permohonan kaumnya, Nabi Musa ‘alaihis salam kemudian menyampaikan perintah Allah SWT.
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina’.” (QS. Al Baqarah: 67).
Mendengar perintah tersebut, Bani Israil justru merasa dipermainkan. Mereka menganggap perintah menyembelih sapi tidak ada hubungannya dengan mengungkap kasus pembunuhan. Namun, Nabi Musa menegaskan bahwa itu adalah perintah Allah.
Di sinilah watak asli Bani Israil terlihat. Alih-alih langsung patuh, mereka justru banyak bertanya dan mengajukan syarat-syarat yang menyulitkan diri mereka sendiri terkait ciri-ciri sapi tersebut.
Mulai dari menanyakan umur sapi, warna kulit, hingga kejelasannya. Allah SWT menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahwa sapi yang dicari adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, warnanya kuning tua berkilau yang menyenangkan orang yang melihatnya, belum pernah digunakan untuk membajak tanah atau mengairi tanaman, serta sehat tanpa cacat.
Hikmah di Balik Sapi Langka: Hadiah bagi Anak yang Berbakti
pencarian sapi dengan ciri-ciri spesifik tersebut ternyata sangat sulit. Namun, di sinilah takdir Allah bekerja dengan sangat indah untuk memberi ganjaran kepada hamba-Nya yang salih.
Ciri-ciri sapi tersebut ternyata hanya dimiliki oleh seekor sapi milik seorang pemuda yatim. Pemuda ini dikenal sangat salih dan berbakti kepada ibunya.
Sapi tersebut adalah warisan ayahnya yang dulu dititipkan kepada Allah di hutan saat masih anakan. Berkat bakti sang anak yang luar biasa kepada ibunya—di mana dia membagi malamnya untuk shalat, tidur, dan menjaga ibunya, serta membagi hasil mencari kayu bakar untuk sedekah, makan, dan ibunya—Allah mempermudah jalannya.
Singkat cerita, pemuda itu berhasil menemukan sapi tersebut di hutan berkat doa sang ibu.
Ujian Malaikat dan Harga Sapi yang Fantastis
Sebelum sapi itu dibeli oleh Bani Israil, Allah menguji bakti sang pemuda melalui seorang malaikat yang menyamar sebagai pembeli.
Malaikat itu menawar sapi dengan harga berkali-kali lipat dari harga pasar, dengan syarat pemuda itu tidak perlu meminta izin ibunya. Namun, sang pemuda tegas menolak.
“Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, aku tidak akan mengambilnya melainkan dengan rida ibumu,” ujar pemuda itu.
Hingga akhirnya, malaikat tersebut berpesan agar pemuda itu menahan sapinya, karena Nabi Musa akan membelinya dengan harga yang sangat tinggi: emas seberat kepingan dinar yang memenuhi kulit sapi tersebut.
Terungkapnya Kasus Pembunuhan
Bani Israil yang putus asa mencari sapi akhirnya menemukan sapi milik pemuda salih itu. Karena tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa membelinya dengan harga fantastis, yakni emas sepenuh kulit sapi tersebut, sebagai imbalan atas bakti sang pemuda kepada ibunya.
Setelah disembelih, Nabi Musa memerintahkan untuk memukulkan bagian dari tubuh sapi tersebut kepada mayat korban pembunuhan.
Seketika, atas izin Allah, orang yang terbunuh itu bangkit hidup kembali dengan darah masih mengalir di urat lehernya. Dia langsung menunjuk si pembunuh, “Yang membunuh saya adalah fulan (saudara sepupunya).”
Setelah mengungkap kebenaran, korban kembali mati. Akibatnya, si pembunuh terhalang mendapat warisan dan kebenaran pun terungkap.
Kisah sapi betina ini menjadi sorotan utama dalam surah terpanjang dalam Al-Qur’an ini, menjadikannya nama yang ikonik dan penuh pelajaran tentang ketaatan kepada Allah serta keutamaan berbakti kepada orang tua. (Mun)
-
POLITIK19/04/2026 14:00 WIBHasto: Kritik Itu Sehat bagi Demokrasi
-
DUNIA19/04/2026 12:00 WIBMacron Ngamuk Usai Tentara Prancis Tewas di Lebanon
-
RAGAM19/04/2026 15:30 WIBDiabetes Bisa Dikendalikan dengan Pola Hidup Sehat
-
JABODETABEK19/04/2026 09:30 WIBPolisi Bongkar Praktik Ilegal LPG di Cileungsi
-
NASIONAL19/04/2026 13:00 WIBTNI Tegaskan Operasi di Papua Tak Terkait Kematian Anak
-
EKBIS19/04/2026 09:00 WIBDPR Ingatkan Kenaikan BBM Bisa Picu Efek Domino
-
NASIONAL19/04/2026 11:00 WIBPigai: Kritik Tak Bisa Dipidana
-
JABODETABEK19/04/2026 10:30 WIBJakarta Siaga Hujan Lebat Hingga 21 April

















