Connect with us

DUNIA

Iran Ancam Perluas Perang Usai Tolak Pertemuan dengan Trump

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: akutalitas.id - ai

AKTUALITAS.ID Iran kembali mengirim sinyal keras kepada Amerika Serikat. Di tengah upaya mencari jalan keluar konflik yang semakin memanas, Teheran secara tegas menolak kemungkinan pertemuan antara pemimpin tertinggi mereka, Mojtaba Khamenei, dengan Presiden AS Donald Trump.

Penolakan itu disampaikan langsung oleh penasihat militer Khamenei, Mohsen Rezaei. Ia menegaskan bahwa pertemuan antara kedua tokoh tersebut tidak mungkin terjadi dalam situasi saat ini karena proses negosiasi dinilai telah menemui jalan buntu.

“Ini tidak akan terjadi. Saat ini kami masih berada pada tahap pertama negosiasi dan Tuan Trump telah membawa negosiasi ke jalan buntu. Ini tidak akan terjadi,” ujar Rezaei.

Pernyataan tersebut sekaligus membantah klaim Trump yang sebelumnya mengaku memiliki hubungan baik dengan Mojtaba Khamenei. Presiden AS itu bahkan menyebut dirinya akan merasa terhormat jika dapat bertemu langsung dengan pemimpin Iran tersebut.

Penolakan Teheran muncul ketika hubungan kedua negara kembali berada di titik paling tegang dalam beberapa tahun terakhir. Seorang pejabat tinggi Iran menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai masih bergantung pada langkah Washington, khususnya terkait pencairan aset Iran senilai US$24 miliar yang masih dibekukan.

Di saat yang sama, Iran juga memperingatkan bahwa kegagalan diplomasi dapat memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan meningkat setelah pasukan Amerika Serikat mencegat rudal dan drone Iran yang mengarah ke kawasan Selat Hormuz dan Teluk. Situasi keamanan regional semakin memburuk ketika sirene peringatan sempat berbunyi di Kuwait dan Bahrain.

Militer AS juga dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di wilayah pesisir Iran. Media Iran menyebut langkah Teheran sebagai peringatan terhadap aktivitas kapal perang Amerika di kawasan strategis tersebut.

Mohsen Rezaei bahkan melontarkan peringatan keras bahwa Iran dapat memperluas cakupan konflik apabila Washington kembali meningkatkan aksi militernya. Menurutnya, operasi militer tidak hanya akan terjadi di Teluk Persia, tetapi berpotensi merembet hingga Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, Samudra Hindia, bahkan Laut Mediterania.

Di tengah memanasnya hubungan AS dan Iran, konflik juga terus meluas ke Lebanon. Sedikitnya lebih dari 20 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel pada Jumat.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah tuduhan Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menyebut Teheran menjadikan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Kalau Lebanon adalah alat tawar bagi Iran, kami sudah mencapai kesepakatan sejak lama,” kata Araghchi.

Penolakan Iran terhadap pertemuan dengan Trump menjadi sinyal kuat bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi hambatan besar. Di tengah ancaman perang yang terus membesar, peluang perdamaian kini tampak semakin jauh dari kenyataan. (Mun)

TRENDING