RAGAM
Seluruh Pantai Selatan Jawa Berada di atas Zona Subduksi Megathrust Aktif
AKTUALITAS.ID – Ancaman di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa belum benar-benar berlalu. Para ahli kebencanaan kembali mengingatkan bahwa seluruh Pantai Selatan Jawa berada di atas zona subduksi megathrust aktif, kawasan pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa Tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 adalah bukti nyata ancaman tersebut. Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 saat itu memicu tsunami yang merenggut lebih dari 668 korban jiwa, melukai ribuan orang, serta menghancurkan permukiman dan kawasan wisata di pesisir selatan Jawa.
Menurut Daryono, gempa tersebut termasuk kategori tsunami earthquake, yaitu gempa yang guncangannya di daratan relatif tidak terlalu kuat, tetapi mampu menghasilkan tsunami yang sangat merusak.
“Megathrust bukan sekadar potensi, tetapi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi,” kata Daryono, dikutip Minggu (19/7/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sirene atau informasi resmi ketika sedang berada di pantai dan merasakan gempa. Evakuasi mandiri justru menjadi langkah paling penting karena gelombang tsunami dapat mencapai garis pantai hanya dalam waktu sekitar 15 hingga 20 menit setelah gempa.
Selain gempa, masyarakat juga diminta mengenali peringatan alami (natural warning) seperti air laut yang tiba-tiba surut atau terdengar suara gemuruh dari arah laut. Tanda-tanda tersebut harus dipahami sebagai sinyal untuk segera meninggalkan kawasan pantai menuju tempat yang lebih tinggi.
Daryono juga menyoroti tingginya risiko di kawasan wisata pantai. Banyak korban pada peristiwa Pangandaran berasal dari wisatawan yang tidak mengetahui jalur evakuasi. Karena itu, setiap destinasi wisata di pesisir selatan Jawa perlu dilengkapi jalur evakuasi, papan petunjuk yang jelas, titik kumpul, dan edukasi kebencanaan yang memadai.
Meski Indonesia kini telah memiliki sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya, jalur evakuasi, hingga berbagai program edukasi masyarakat, Daryono menilai pekerjaan mitigasi masih jauh dari selesai.
Menurutnya, keberhasilan menghadapi tsunami tidak diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana terjadi, melainkan dari sedikitnya korban karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang.
Sementara itu, BMKG menegaskan bahwa istilah megathrust kerap disalahartikan sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi. Pemahaman tersebut tidak tepat.
Megathrust merupakan istilah geologi untuk menyebut zona pertemuan lempeng tektonik yang memang menjadi sumber gempa besar. Zona ini telah ada selama jutaan tahun, tetapi hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memahami jalur evakuasi, mengenali tanda-tanda alam tsunami, serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi berwenang ketika terjadi gempa.
Pesan para ahli jelas ancaman megathrust memang nyata, tetapi kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi benteng pertama dan paling efektif untuk menyelamatkan nyawa. (Mun)
-
DUNIA19/07/2026 12:00 WIBMilisi Irak Umumkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Targetkan Trump
-
POLITIK19/07/2026 09:00 WIBPBB Resmi Jadi Garda Terdepan Pemerintahan Prabowo Subianto
-
DUNIA19/07/2026 08:00 WIBKeji! Drone Israel Hantam Warga yang Sedang Berduka di Gaza
-
POLITIK19/07/2026 07:00 WIBPPP Dorong Perempuan Dominasi Parlemen 2029
-
EKBIS19/07/2026 11:00 WIBBahlil: Blok Masela Bisa Hasilkan Rp585 Triliun untuk Negara
-
OASE19/07/2026 05:00 WIBAl Qur’an Bongkar Rahasia Lapisan Bumi
-
RIAU19/07/2026 13:30 WIBRiau Bhayangkara Run 2026 Jadi Ajang Sport Tourism dan Kampanye Pelestarian Lingkungan
-
JABODETABEK19/07/2026 05:30 WIBMau Liburan? Cek Dulu Prediksi Cuaca Jakarta Hari Ini

















